EventBogor.com – Aroma gurih nasi dan lauk pauk yang seharusnya membangkitkan selera, kini justru beraroma kecurigaan. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan, bukan hanya karena menu yang dinilai belum memenuhi standar, tapi juga potensi keuntungan menggiurkan yang berputar di balik dapur umum.
Bayangkan, Anda adalah orang tua yang setiap hari mengandalkan MBG untuk memastikan anak-anak tercinta mendapatkan asupan gizi yang cukup. Tapi, benarkah yang mereka terima adalah makanan bergizi, atau justru hidangan yang kualitasnya dikorbankan demi keuntungan segelintir pihak?
Potensi Keuntungan yang Menggiurkan
Pengamat sosial, politik, dan budaya, Dindin Ra Dien, membuka mata kita terhadap skema anggaran yang berpotensi menimbulkan celah. Dari Rp15.000 per Keluarga Penerima Manfaat (KPM), Rp10.000 dialokasikan untuk bahan baku, Rp3.000 untuk operasional, dan Rp2.000 menjadi margin keuntungan bagi pengelola. Sekilas, angka tersebut mungkin terlihat wajar. Namun, ketika dikalikan dengan ribuan penerima manfaat setiap hari, potensi keuntungan tersebut berubah menjadi angka yang fantastis, mencapai jutaan rupiah.
“Ini yang perlu diwaspadai,” tegas Dindin. “Ketika margin sudah pasti, tetapi kualitas makanan masih dipersoalkan, maka muncul dugaan bahwa orientasinya bergeser dari pelayanan menjadi keuntungan.”