Eventbogor.com – Setelah Hari Raya Idul Fitri, momen halal bihalal selalu dinanti sebagai wadah untuk mempererat hubungan kekeluargaan dan saling memaafkan.
Tradisi ini kental dengan nuansa spiritual, terutama saat dibacakan ikrar yang menjadi simbol rekonsiliasi dan kebersamaan.
Bagi yang merayakan dengan nuansa Jawa, menggunakan bahasa daerah dalam ikrar bisa menambah kedalaman makna dan rasa kekeluargaan.
Di tahun 2026, banyak keluarga dan komunitas masih mempertahankan kebiasaan membacakan ikrar halal bihalal dalam bahasa Jawa, meski dengan versi yang lebih ringkas dan mudah dipahami.
Ikrar tidak sekadar formalitas, tapi juga momen reflektif untuk membersihkan hati dan memperbarui niat dalam menjalin silaturahmi.
Salah satu contoh ikrar yang sering digunakan adalah ucapan dari perwakilan sepuh keluarga yang menyatakan penerimaan maaf dari generasi muda.
Bunyinya, “Kula minangka wakil saking para sepuh, nampi kanthi legawa ikrar syawalan saking para putra.”
Dalam kalimat tersebut, terkandung sikap lapang dada dan kerendahan hati dari orang tua yang menerima permohonan maaf anak-anaknya.
Lalu dilanjutkan dengan permintaan maaf balik, baik atas kesalahan yang disengaja maupun tidak, yang terlihat maupun tidak terlihat.
Bagian ini penting karena menegaskan bahwa proses saling memaafkan harus berjalan dua arah.