“Bapaknya dapat informasi dari penerbangan itu, aku telepon jadi aku datang ketemu dia. Kaget lah, malem tahun baru masih kumpul sini,” tutur Arya dengan nada lirih, mengenang pertemuan terakhir dengan keponakannya. Ungkapan Arya menggambarkan betapa dekatnya hubungan keluarga ini, dan betapa besarnya kehilangan yang mereka rasakan.
Duka ini tidak hanya dirasakan oleh Arya, tetapi juga oleh seluruh keluarga besar. Rasa sakit yang tak terlukiskan, harapan yang membumbung tinggi, dan doa yang tak henti-hentinya dipanjatkan. Arya mengungkapkan betapa terpukulnya orang tua Esther, yang kini tengah berjuang melawan kesedihan yang mendalam. “Masih gadis, orang tuanya sakit lah bilang gara-gara ada kejadian begini. Mudah-mudahan ada mukjizat ya,” imbuhnya, penuh harap.
Penantian Panjang dan Upaya Pencarian
Hingga saat ini, keluarga Esther masih terus menunggu informasi terbaru dari pihak perusahaan penerbangan tempat Esther bekerja. Pihak Basarnas (Badan SAR Nasional) terus berupaya melakukan pencarian dan evakuasi. Seluruh perhatian tertuju pada upaya penyelamatan dan harapan akan keajaiban.
Pesawat ATR 42-500 tersebut akhirnya ditemukan pada Minggu (18/1/2026) di kawasan Gunung Bulusaraung, yang terletak di perbatasan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Penemuan ini membawa babak baru dalam pencarian, namun juga semakin meningkatkan kekhawatiran keluarga akan nasib Esther.