EventBogor.com – Selasa (14/4) kemarin, hujan deras yang mengguyur Bogor Barat bukan hanya sekadar guyuran. Bagi warga Cibatok, Cibungbulang, ia menjelma menjadi mimpi buruk. Air bah datang, menenggelamkan jalan, merendam ruko, dan menghentikan aktivitas. Sebuah potret pilu yang berulang, mengajukan pertanyaan: Kapan banjir ini akan berhenti?

Air Mata di Tengah Banjir

Bayangkan Anda baru saja selesai bekerja, bersiap pulang ke rumah. Namun, jalan yang biasa Anda lalui kini berubah menjadi sungai cokelat. Ruko-ruko tempat Anda biasa membeli kebutuhan sehari-hari, kini hanya terlihat atapnya. Itulah yang terjadi di Cibatok. Air bah tak memberi ampun, meluap hanya beberapa jam setelah hujan mengguyur. Akses jalan utama lumpuh, aktivitas warga terganggu, ekonomi terhenti.

Penyebab yang Tak Kunjung Selesai

Mengapa Cibatok kembali berduka? Jawabannya, lagi-lagi, adalah kombinasi rumit antara alam dan ulah manusia. Penyempitan saluran air yang tak mampu menampung debit hujan menjadi penyebab utama. Ibarat pembuluh darah yang tersumbat, air mencari jalan keluar dengan cara yang paling ekstrem: meluap. Diperparah lagi dengan keberadaan bangunan liar yang berdiri di atas atau di sekitar saluran drainase. Sebuah ironi, di mana pembangunan yang seharusnya menyejahterakan, justru menjadi penyebab bencana.

Apa Artinya Bagi Warga?

Banjir bukan hanya soal air yang menggenang. Ia adalah luka yang menganga di sendi-sendi kehidupan. Aktivitas ekonomi lumpuh, pelaku usaha merugi, dan warga harus berjuang keras membersihkan rumah mereka. Belum lagi ancaman penyakit yang mengintai pasca-banjir. Ini bukan sekadar berita, ini adalah realita pahit yang harus dihadapi.

BACA JUGA :  Tangan Besi & Hati Nurani: Penertiban Bangunan Liar di Sukaraja, Bogor

Desakan yang Tak Boleh Redup

Warga Cibatok tak tinggal diam. Mereka mendesak pemerintah daerah untuk bertindak tegas. Normalisasi saluran air dan penertiban bangunan liar adalah dua langkah krusial yang harus segera dilakukan. Ini bukan hanya soal menyelesaikan masalah banjir hari ini, tapi juga mencegahnya terjadi lagi di masa depan. Kita semua tentu tak ingin tragedi ini kembali terulang.