EventBogor.com – Kabar baik datang dari Pamijahan. Wakil Bupati Bogor, Jaro Ade, turun langsung meninjau kawasan wisata Gunung Bunder dan Gunung Sari, dua permata tersembunyi di kaki Gunung Salak. Pertemuan ini bukan sekadar seremoni, melainkan upaya konkret untuk merumuskan solusi atas berbagai permasalahan yang menghambat potensi wisata di sana. Mulai dari infrastruktur yang memprihatinkan hingga pemberdayaan masyarakat lokal, semua dibahas tuntas.

Jalan Rusak & Lampu Minim: Jangan Biarkan Keindahan Tersembunyi!

Bayangkan Anda sedang menikmati liburan di Gunung Bunder, udara segar, pemandangan indah… tiba-tiba, blar! Ban mobil Anda pecah karena jalan berlubang. Atau, saat malam tiba, gelap gulita menyelimuti, membuat perjalanan terasa mencekam. Itulah gambaran kondisi yang dialami wisatawan di kawasan wisata Gunung Bunder dan Sari. Jaro Ade tak tinggal diam. Ia menyoroti langsung kondisi infrastruktur yang memprihatinkan, terutama jalan menuju Gunung Bunder yang dilaporkan rusak parah. Penerangan jalan umum (PJU) juga menjadi perhatian utama. “Lahan yang hijau jangan sampai dirusak,” tegas Jaro Ade, mengingatkan betapa pentingnya menjaga kelestarian alam sekaligus kenyamanan wisatawan.

Langkah konkret sudah disiapkan. Camat Pamijahan diinstruksikan untuk segera mengusulkan penambahan PJU di titik-titik rawan. Lebih lanjut, perbaikan jalan akan diusulkan dalam Musrenbang 2026, bahkan diupayakan bisa direalisasikan lebih cepat melalui Dinas PUPR. Ini bukan sekadar janji manis, tapi komitmen nyata untuk memperbaiki fasilitas publik dan meningkatkan pengalaman wisatawan.

BACA JUGA :  Jembatan Ambruk di Rumpin: Jaro Ade Turun Tangan, Warga Diminta Waspada

Gerbang Tiket & Iklim Wisata: Mencari Solusi Terbaik

Perdebatan seputar gerbang tiket masuk juga menjadi sorotan. Jaro Ade menekankan bahwa hal ini merupakan kewenangan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Namun, ia berpesan agar semua pihak menjaga iklim wisata yang sehat, tidak memberatkan wisatawan, dan yang terpenting, memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat. Ini adalah keseimbangan yang sulit, tapi krusial: bagaimana mengelola potensi wisata secara berkelanjutan, tanpa merugikan masyarakat lokal dan tetap menjaga kelestarian alam.

UMKM Lokal: Gairahkan Ekonomi dari Akar Rumput

Salah satu poin penting yang ditekankan Jaro Ade adalah pemberdayaan UMKM lokal. Ia melihat potensi besar dalam mengembangkan ekonomi masyarakat sekitar melalui sektor wisata. “Yang penting wisata ini harus berdampak positif untuk perekonomian masyarakat,” ujarnya. SKPD terkait diminta mengintegrasikan pembinaan UMKM sesuai potensi masing-masing wilayah. Ini artinya, bukan hanya membangun infrastruktur, tapi juga memberikan pelatihan, pendampingan, dan akses pasar bagi para pelaku usaha kecil. Dengan begitu, geliat ekonomi akan terasa langsung di akar rumput, menciptakan dampak positif yang berkelanjutan.

Kemitraan & Tantangan: Menuju Wisata Berkelanjutan

Perwakilan TNGHS, Dudi, mengungkapkan bahwa kawasan yang dikelola di wilayah Kabupaten Bogor mencapai 28.000 hektare. Ia berharap adanya kerja sama yang lebih konkret antara TNGHS dan Pemkab Bogor. Pungutan tiket masuk atau PNBP yang menjadi kewajiban TNGHS juga menjadi perhatian. Pemerintah pusat memang mewajibkan pungutan ini, namun dialog tetap dibuka agar tidak memberatkan masyarakat. Ini menunjukkan adanya upaya untuk mencari solusi yang win-win, menjaga kelestarian lingkungan dan ekonomi masyarakat.

BACA JUGA :  Lampu Jalan Nasional di Bogor Barat Padam, PLN Sebut Penyebabnya Tunggakan BPTJ

Langkah Jaro Ade patut diacungi jempol. Dengan fokus pada perbaikan infrastruktur, pemberdayaan UMKM, dan kemitraan yang baik, Gunung Bunder dan Sari memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi wisata yang berkelanjutan. Mampukah visi ini diwujudkan? Mari kita tunggu bersama.