EventBogor.com – Suasana pilu menyelimuti kediaman keluarga Esther Aprilita, seorang pramugari yang menjadi salah satu penumpang pesawat ATR 42-500 yang mengalami musibah. Rumah di Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, menjadi saksi bisu duka mendalam yang dirasakan keluarga besar, yang kini hanya bisa berserah diri dan memanjatkan doa agar keajaiban masih menyertai Esther.
Kabar hilangnya kontak pesawat pada Sabtu (17/1/2026) lalu, yang kemudian berujung pada ditemukannya puing-puing pesawat di kawasan Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, telah mengguncang hati keluarga Esther. Meskipun fakta pahit mulai terkuak, harapan untuk melihat Esther kembali dengan selamat masih membara di hati keluarga. Kisah ini menjadi pengingat betapa rapuhnya kehidupan dan pentingnya dukungan moral bagi mereka yang tengah dilanda musibah.
Harapan yang Masih Menyala di Tengah Duka
Paman Esther, Arya, menjadi juru bicara keluarga yang mengungkapkan perasaan mereka di tengah situasi yang sulit ini. “Masih, masih berduka ya,” ujar Arya dengan nada suara yang sarat emosi, menunjukkan betapa beratnya beban yang mereka pikul. Ia melanjutkan dengan kalimat yang mencerminkan harapan yang masih tersisa, “Beginilah kalau harapan untuk hidup itu pasti tapi ya itu kan.” Pernyataan ini mencerminkan perjuangan batin antara harapan dan kenyataan yang mungkin harus mereka hadapi.
Arya juga mengungkapkan bahwa keluarga masih menggantungkan harapan meski mengetahui kondisi yang ada. “Jika tuhan izinkan dia selamat Alhamdulillah puji tuhan, istilahnya harapan itu berapa persen lagi lah harapan,” tambahnya. Kalimat ini menunjukkan kekuatan iman keluarga dalam menghadapi cobaan. Meskipun dihadapkan pada kemungkinan terburuk, mereka tetap berharap akan adanya mukjizat, sebuah harapan yang menjadi penguat bagi mereka.