EventBogor.com – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan kekhawatirannya terkait potensi kenaikan harga barang dan jasa di Ibu Kota akibat konflik antara Israel dan Iran. Kenaikan harga telur ayam menjadi perhatian utama, melonjak lebih dari 17 persen. Apakah dompet kita akan ikut ‘berperang’?
Rantai Pasok Terancam, Harga Meroket?
Bayangkan, Anda berencana membeli bahan pokok untuk kebutuhan sehari-hari. Tiba-tiba, harga telur, daging ayam, dan bawang merah melonjak. Ini bukan hanya cerita fiktif, tetapi potensi nyata yang mengintai Jakarta. Pramono Anung dengan tegas menyampaikan harapan agar konflik di Timur Tengah tidak berlarut-larut. Sebab, perang tersebut berpotensi mengganggu stabilitas harga di pasar.
Konflik yang berkepanjangan dapat mengganggu rantai pasok global. Selat Hormuz, jalur distribusi vital dunia, kini terancam. Penutupan jalur ini akan berdampak pada biaya transportasi barang yang meningkat, ujungnya adalah kenaikan harga di pasaran. Ini bukan hanya soal harga telur yang naik, tapi juga komoditas lain yang kita butuhkan sehari-hari.
Stok Aman, Tapi…
Kabar baiknya, Kepala Dinas PPKUKM DKI Jakarta, Elisabeth Ratu Rante Allo, memastikan stok pangan strategis di Jakarta mencukupi hingga Idul Fitri 1447 H. Namun, apakah ini jaminan? Ketersediaan stok adalah satu hal, tetapi harga adalah cerita lain. Kondisi global yang memanas selalu menyiratkan potensi kenaikan harga. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk tidak panik membeli (panic buying), yang justru bisa memperparah situasi.