Bagi saksi mata, khususnya pegawai mal yang menyaksikan langsung kejadian ini, trauma adalah luka yang tak kasat mata. Rasa kaget, syok, dan ketidakpercayaan akan membekas dalam waktu yang lama. Mereka mungkin akan kesulitan tidur, dihantui bayangan kejadian, atau bahkan mengalami gangguan kecemasan. Dukungan psikologis sangat dibutuhkan untuk membantu mereka pulih dari pengalaman traumatis ini.
Lalu, bagaimana dengan pengunjung lain? Apakah mereka menyadari apa yang baru saja terjadi? Apakah mereka merasakan dampak emosionalnya? Atau, apakah mereka hanya terus melanjutkan aktivitas belanja seolah tak terjadi apa-apa? Pertanyaan-pertanyaan ini menggelitik kesadaran kita tentang bagaimana kita bereaksi terhadap tragedi di sekitar kita.
Respons yang Terlambat: Ketiadaan Garis Polisi?
Kehadiran polisi di lokasi kejadian memang ada, namun terlambat. “Tadi sih dateng polisi, tapi pas semua udah rapi,” ujar salah seorang saksi mata. Keterlambatan ini menimbulkan pertanyaan: Apakah ada prosedur yang kurang efektif dalam penanganan insiden seperti ini? Apakah ada celah yang perlu diperbaiki untuk memastikan penanganan yang lebih cepat dan efektif di masa mendatang?
Satu hal yang juga menjadi sorotan adalah ketiadaan batas atau tanda di lokasi jatuhnya korban. Hal ini seolah mengisyaratkan normalisasi tragedi, seolah-olah kejadian itu hanyalah bagian dari rutinitas yang tak perlu dirisaukan. Apakah ini cerminan dari masyarakat kita yang semakin apatis?