Helaran ini sebenarnya bukan sekadar arak-arakan biasa untuk menghibur mata, melainkan cara masyarakat menjaga ingatan kolektif tentang akar budaya mereka yang sangat dalam.
Dari bunyi angklung yang beradu hingga tabuhan gendang yang menghentak, setiap suara seolah menceritakan kembali kejayaan masa lalu saat Kerajaan Pajajaran masih berdiri kokoh di tanah ini.
Penentuan tanggal 3 Juni sebagai hari lahir Bogor pun punya cerita panjang yang merujuk pada momen pelantikan Prabu Siliwangi sebagai raja legendaris.
Itulah mengapa setiap perayaan selalu diwarnai dengan upacara adat yang khidmat sebelum akhirnya pecah dalam kegembiraan pesta rakyat yang sangat inklusif bagi siapa saja.