Eventbogor.com – Tahun 2026 ini, Festival Sinema Australia dan Indonesia, atau yang akrab kita sebut FSAI, kembali menyapa penggemar film di berbagai penjuru Tanah Air. Ajang tahunan ini bukan sekadar pameran film biasa, melainkan sebuah jembatan budaya yang unik, menghadirkan karya-karya kontemporer dari kedua negara untuk memperkaya pemahaman kita. Coba bayangkan, festival film keren ini siap mampir ke 11 kota besar di Indonesia, mulai dari Jakarta, Manado, Makassar, Semarang, Medan, Surabaya, Banjarmasin, Bogor, Yogyakarta, Kupang, hingga Mataram. Jelas sekali, kehadiran di banyak kota ini sengaja dilakukan untuk memberikan kesempatan lebih luas bagi penonton kita menikmati film-film pilihan yang sudah dikurasi khusus sesuai selera masyarakat Indonesia. Tim kurator FSAI sendiri punya pertimbangan matang dalam memilih setiap film, yaitu mencari cerita yang bisa “nyambung” dan punya resonansi kuat dengan penonton lokal kita. Pendekatan seperti ini memang berhasil membuat festival tidak cuma menawarkan ragam tontonan, tapi juga pengalaman sinematik yang terasa personal dan dekat di hati. Duta Besar Australia untuk Indonesia, Bapak Rod Brazier, dengan bangga menyatakan bahwa FSAI ini adalah cara paling efektif untuk mempertemukan langsung kisah-kisah dari dua negara kita. “FSAI secara langsung membawa kisah-kisah Australia dan Indonesia kepada penonton Indonesia, yang pada akhirnya memperkuat pemahaman budaya melalui film sekaligus merayakan kemitraan industri kreatif kita yang terus tumbuh,” begitu tegasnya. Nah, untuk FSAI 2026 kali ini, ada beberapa program baru yang siap memberikan pengalaman menonton yang lain daripada yang lain. Pembuka festival yang ditunggu-tunggu adalah film “Kangaroo”, sebuah drama komedi seru berlatar Pedalaman Australia, yang dengan apik menggambarkan pentingnya hubungan antartokoh dan kekuatan komunitas. Salah satu inovasi paling menarik tahun ini, ada program keren bernama “Screen on the Green”. Ini adalah kesempatan langka menonton film di ruang terbuka yang bertempat di Kebun Raya Bogor yang asri, menawarkan suasana santai dan pengalaman sinematik yang menyatu dengan alam. Secara keseluruhan, FSAI 2026 memamerkan total lima film panjang dari Australia, ditambah dua film karya sineas Indonesia yang merupakan alumni Australia. Tidak hanya itu, empat film pendek garapan alumni Australian Alumni Awards juga turut meramaikan program film pendek yang patut ditonton. Ragam pilihan film ini dengan gamblang menunjukkan betapa kayanya pendekatan cerita yang dihadirkan, mulai dari narasi panjang yang mendalam hingga perspektif unik dalam format film pendek. Tak cuma nonton, FSAI juga menyuguhkan sesi masterclass yang sangat berharga untuk sinematografi dan produksi film dokumenter. Sesi-sesi edukatif ini akan langsung dipandu oleh praktisi film ternama dari Australia, seperti Andrew Commis, serta Associate Professor Michelle Johnston dari Curtin University. Bicara soal kolaborasi, FSAI ini sebenarnya adalah salah satu wujud nyata dari upaya tanpa henti Indonesia dan Australia dalam mengembangkan industri kreatif bersama. Festival ini bukan hanya ajang memamerkan karya seni, melainkan juga wadah penting untuk berdiskusi, bertukar ide, dan membuka peluang kerja sama yang jauh lebih luas lagi. Rod Brazier sendiri optimis dan menegaskan bahwa kolaborasi semacam ini pasti akan terus berlanjut di masa depan. “Sudah pasti kolaborasi akan terus dilanjutkan, baik lewat FSAI maupun program Australia Awards yang memberi kesempatan teman-teman Indonesia ikut short course di Australia,” imbuhnya. Dari kacamata Indonesia, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Ibu Irene Umar, dengan penuh semangat melihat bahwa gerbang peluang bagi para sineas lokal untuk mendunia selalu terbuka lebar. Namun, ia juga mengingatkan bahwa mewujudkan mimpi besar itu tentu butuh dukungan solid dari banyak pihak. “Impossible is I’m possible. Semua kemungkinan itu pasti ada, asal ada dukungan dari banyak pihak,” kutipnya, menyampaikan pesan inspiratif. Ibu Irene juga menambahkan informasi menarik, bahwa ternyata antusiasme dari negara-negara lain terhadap film Indonesia itu cukup tinggi lho, membuka jalan lebar bagi karya-karya kita untuk dikenal di kancah internasional. Makanya, para sineas muda maupun senior di Tanah Air juga didorong keras untuk lebih jeli lagi dalam melihat dan memanfaatkan peluang emas ini. Selain itu, potensi kolaborasi juga makin terlihat jelas dengan adanya kemungkinan distribusi film-film Indonesia ke Australia, serta peluang untuk kerja sama produksi di masa mendatang. Ini semua menunjukkan bahwa hubungan yang sudah terbangun solid tidak akan berhenti hanya pada festival semata, melainkan berkembang menjadi kemitraan industri yang jauh lebih strategis dan berjangka panjang.