Eventbogor.com – Gebrakan besar baru saja terjadi di internal Kementerian Keuangan setelah Purbaya memutuskan untuk mencopot Febrio Kacaribu dan Luky Alfirman dari jabatan strategis mereka sebagai Dirjen.

Langkah berani ini langsung diikuti dengan penunjukan pelaksana harian untuk memastikan roda organisasi tidak mandeg di tengah situasi ekonomi global yang sedang tidak menentu.

Banyak yang bertanya-tanya ada apa di balik perombakan mendadak ini, namun Purbaya tampaknya ingin menyuntikkan disiplin fiskal yang lebih ketat lewat wajah-wajah baru di eselon II.

Di luar urusan internal, Purbaya juga membuat pernyataan yang cukup bikin geger dengan menolak tawaran pinjaman jumbo sebesar 30 miliar dolar AS dari IMF dan Bank Dunia.

Dengan nada percaya diri, ia menegaskan bahwa Indonesia belum butuh bantuan dana tersebut karena kondisi fiskal kita diklaim masih sangat tangguh.

Bahkan, Purbaya tidak segan menyebut proyeksi ekonomi dari Bank Dunia yang hanya mematok angka 4,7 persen sebagai sebuah kesalahan hitung.

Pemerintah sendiri tetap optimis bahwa pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama 2026 ini mampu menyentuh angka 5,5 persen berkat percepatan belanja negara.

Keyakinan ini diperkuat dengan realisasi investasi yang sukses menembus Rp498,79 triliun, sebuah angka yang berhasil menyerap lebih dari 700 ribu tenaga kerja baru.

Presiden Prabowo juga baru saja membawa pulang komitmen investasi jumbo senilai Rp173 triliun setelah melakukan kunjungan kerja ke Jepang dan Korea Selatan.

BACA JUGA :  Menkeu Purbaya Mau Ambil Alih Pajak & Bea Cukai, Biar Cepat Kelar?

Meski begitu, kita tidak bisa menutup mata bahwa rupiah sedang berada dalam tekanan berat setelah sempat menyentuh level Rp17.100 per dolar AS.

Bank Indonesia pun harus bergerak cepat menjaga stabilitas dengan mempertahankan BI Rate di angka 4,75 persen pada bulan April ini.

Selain urusan kurs, melonjaknya harga minyak dunia juga menjadi ancaman nyata yang bisa membuat beban subsidi energi kita membengkak drastis.

Untuk mengantisipasi hal itu, skema efisiensi senilai Rp150 triliun sudah disiapkan sebagai tameng agar APBN tidak jebol di tengah fluktuasi harga komoditas.

Pemerintah juga mulai melirik pasar China dengan rencana penerbitan Panda Bond demi menggaet lebih banyak investor global ke tanah air.

Intinya, meski dihantam ketidakpastian dari berbagai arah, sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal diharapkan tetap bisa menjaga ekonomi kita tetap stabil sepanjang tahun 2026 ini.