EventBogor.com – Jakarta, Minggu (8 Maret 2026), Bundaran HI disulap menjadi panggung megah perayaan Nyepi. Pawai Ogoh-Ogoh yang meriah, dihadiri ribuan warga dan tokoh penting seperti Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, menjadi bukti nyata toleransi dan keindahan keberagaman di tengah hiruk pikuk kota metropolitan.
Bayangkan, Anda berdiri di tengah kerumunan, disuguhi pemandangan yang memukau. Patung-patung raksasa Ogoh-Ogoh, dengan ekspresi beragam dan detail rumit, bergerak anggun diiringi musik tradisional. Suasana yang khidmat namun meriah, mengingatkan kita bahwa di tengah perbedaan, ada ruang untuk saling menghargai dan merayakan.
Lebih dari Sekadar Pawai: Simbolisme Mendalam
Pawai Ogoh-Ogoh bukan sekadar tontonan. Ini adalah perwujudan tradisi yang sarat makna. Ogoh-Ogoh, yang berarti ‘sesuatu yang digebah’ atau ‘ditakuti’, melambangkan sifat-sifat negatif dalam diri manusia yang perlu dibersihkan sebelum memasuki hari raya Nyepi. Prosesi ini adalah simbol dari upaya membersihkan diri, baik secara fisik maupun spiritual, menyambut hari yang sunyi dan hening.
Kenapa Ini Penting Sekarang?
Di era yang seringkali dipenuhi perpecahan, perayaan seperti ini menjadi oase. Di tengah gempuran informasi yang kadang memecah belah, pawai Ogoh-Ogoh di Bundaran HI adalah pengingat bahwa perbedaan adalah kekayaan. Ini adalah momen untuk merajut kembali tali persatuan, untuk menunjukkan bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan kelemahan. Acara ini bukan hanya milik umat Hindu, tapi milik seluruh warga Jakarta.