Eventbogor.com – Indonesia lagi dihadapkan sama risiko yang nggak main-main nih, yaitu ‘middle-income trap’.

Ini jadi perhatian khusus karena kita punya cita-cita besar buat jadi negara maju di tahun 2045.

Bayangin aja, kalau pertumbuhan ekonomi kita nggak ngebut, ya bisa-bisa kita stuck terus jadi negara berkembang.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Bapak Airlangga Hartarto, bilang pertumbuhan sekitar 5 persen itu belum cukup buat bikin kita ‘naik kelas’.

Menurut beliau, Indonesia butuh gaspol sampai minimal 6,7 persen biar bisa naik kelas secara struktural.

“Saya kira, dengan aspirasi Indonesia untuk menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2045, Indonesia perlu tumbuh melampaui 5 persen. Artinya, Indonesia perlu mencapai pertumbuhan setidaknya 6,7 persen,” kata beliau, seperti yang dikutip dari ANTARA.

Intinya, target pertumbuhan itu bukan cuma soal ekonomi stabil, tapi juga soal transformasi ekonomi.

Masalahnya, tekanan dari luar juga lagi kenceng banget.

Gejolak energi, rantai pasok yang berantakan, sampai urusan pangan yang nggak pasti, itu semua jadi tantangan buat banyak negara, termasuk kita.

Nah, pemerintah milih buat kuatin fondasi dalam negeri dulu sebagai strategi utama.

Konsumsi dalam negeri diharapkan jadi andalan utama, soalnya kondisi di luar lagi nggak bisa diprediksi.

Pak Airlangga juga bilang, konsumsi dalam negeri itu nyumbang sekitar 54 persen ke permintaan ekonomi nasional.

Makanya, pemerintah fokus buat jaga daya beli masyarakat dan kepercayaan konsumen.

BACA JUGA :  Oknum Polisi Tangerang Terjerat Kasus Penggelapan Mobil, Nasib di Ujung Tanduk

Selain itu, kita juga lagi ngebut buat mandiri di bidang energi, biar nggak terlalu tergantung sama impor.

Program peningkatan biodiesel sampai B50 itu salah satu cara buat jaga pasokan energi nasional tetap stabil.

Di sektor pangan, pemerintah berusaha keras buat mastiin rantai pasok lancar dengan cara ngendaliin biaya produksi.

Salah satunya dengan stabilisasi harga gas, yang penting banget buat bikin pupuk, biar pertanian kita tetap produktif.

Kita bahkan punya kelebihan produksi pupuk urea yang lumayan banyak.

Setiap tahun, kita ekspor sekitar 1,5 juta ton pupuk ke berbagai negara.

Permintaan dari India, Australia, sampai Filipina nunjukkin kalau Indonesia makin diperhitungkan di pasar global.

Ini ngebuat peran Indonesia makin kuat, nggak cuma sebagai konsumen, tapi juga sebagai pemasok di rantai pasok pangan dunia.

Baca Juga: Prabowo Bentuk Satgas Percepatan Program, Airlangga Jadi Ketua.

Tapi inget, semua strategi ini bakal jalan kalau kita bisa dorong pertumbuhan di atas angka yang biasa kita capai.

Kalau nggak ada reformasi yang lebih greget, target 6,7 persen itu kayaknya susah banget buat diwujudin.

Pak Airlangga mastiin pemerintah bakal terus menyesuaikan kebijakan biar tetap responsif sama kondisi global yang berubah-ubah.

Diharapkan, langkah ini bisa jaga stabilitas dan sekaligus membuka jalan buat transformasi ekonomi jangka panjang.