Eventbogor.com – Surat-surat Raden Ajeng Kartini masih menyimpan getaran perlawanan yang terasa hingga hari ini.
Di tengah belenggu tradisi dan norma kolonial abad ke-19, tulisan-tulisannya menjadi oase bagi perempuan yang selama ini dibungkam.
Kartini bukan hanya sekadar menulis curahan hati, tapi menyusun argumen tajam tentang keadilan, pendidikan, dan hak perempuan untuk hidup bebas.
Surat-surat itu ditujukan kepada pasangan J.H. Abendanon dan istrinya, Rosa Abendanon, yang dikenalnya saat sang suami menjabat di pemerintahan Hindia Belanda.
Hubungan mereka terjalin melalui surat-menyurat yang kemudian menjadi jembatan antara Jawa dan Eropa dalam soal pemikiran kebangsaan.
Pada 1911, J.H. Abendanon menghimpun surat-surat itu dalam buku berjudul Door Duisternis tot Licht—dari gelap menuju terang.
Terbitan itu kemudian diterjemahkan oleh Balai Pustaka pada 1922 dengan judul Habis Gelap, Terbitlah Terang dalam bahasa Melayu.
Baru pada 1938, versi bahasa Indonesia resmi diterbitkan, dengan penyusunan yang lebih runtut dan kontekstual bagi pembaca lokal.
Dalam salah satu suratnya, Kartini menuliskan dengan getir tentang realitas pernikahan di kalangan bangsawan Jawa saat itu.
“Di dunia Jawa, cinta merupakan khayalan,” tulisnya, menggambarkan betapa mustahilnya cinta tumbuh dalam ikatan yang diatur tanpa pilihan.