EventBogor.com – Minggu kelabu di Kembangan, Jakarta Barat, menjadi saksi bisu perjuangan pemilik warteg yang terpaksa gigit jari. Banjir setinggi paha orang dewasa melumpuhkan jalan, menghentikan roda ekonomi, dan merenggut harapan dagang di hari yang seharusnya penuh berkah. Kisah ini bukan sekadar berita, melainkan potret nyata dampak banjir yang merenggut rezeki warga.
Air Mata di Balik Etalase: Ketika Banjir ‘Menyantap’ Lauk Pauk
Bayangkan, dini hari yang seharusnya diisi dengan riuh sahur, berubah menjadi momen pilu bagi Esa Fadhlani, pemilik Warteg Puri Bahari. Saat warga bersiap menyambut fajar, air mulai merangkak naik, menggenangi jalan, dan menerobos masuk ke warungnya. Persiapan menu sahur yang telah dilakukan dengan penuh semangat, kini hanya teronggok di etalase, tak ada pembeli.
“Air dari Kali Kembangan jam sekitar 23.00 WIB sudah mulai naik. Puncak meluapnya sekitar pukul 03.00 WIB. Nyampe warteg tingginya udah se-paha saya (60-80 cm),” ungkap Esa, menggambarkan bagaimana banjir dengan cepat mengubah segalanya.
Kisah Esa adalah cerminan dari banyak pemilik warung makan lain di Kembangan. Banjir bukan hanya menghalangi pelanggan datang, tapi juga memutus pasokan bahan makanan. Belanjaan tak bisa dikirim, pendapatan merosot drastis. Sebuah lingkaran setan yang sulit diputus.