Yang tak kalah memilukan adalah meningkatnya kasus penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja. Kawasan industri dan permukiman padat penduduk menjadi wilayah yang paling rentan. Namun, ironisnya, fasilitas rehabilitasi remaja nyaris tak ada, ditambah lagi dengan minimnya edukasi publik tentang bahaya narkoba. Ini seperti membiarkan api membakar tanpa upaya pemadaman yang serius.
Anak-anak muda adalah aset berharga bagi masa depan Bogor. Jika mereka terjerat narkoba, siapa yang akan melanjutkan estafet pembangunan? Siapa yang akan menjadi pemimpin, penggerak, dan inovator? Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.
Apa Artinya Bagi Warga Bogor?
Kondisi ini tentu saja berdampak langsung pada kehidupan warga Bogor. Tingginya angka PMKS menciptakan masalah sosial yang kompleks, mulai dari kriminalitas hingga masalah kesehatan. Sementara itu, penyalahgunaan narkoba merusak generasi muda, merenggut masa depan mereka, dan merusak tatanan sosial. Kita semua, secara tidak langsung, terkena imbasnya.
Aktivis muda mendesak Bupati Bogor, Rudy Susmanto, untuk segera turun tangan. Mereka meminta anggaran khusus dan kebijakan yang serius, bukan sekadar formalitas laporan. Mereka juga mendorong pembentukan Unit Layanan Rehabilitasi Sosial Terpadu, sinergi antara berbagai dinas dan organisasi. Ini adalah langkah konkret yang sangat dibutuhkan.
Memperingati Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) pada 26 Juni, adalah momentum yang tepat untuk mengambil langkah nyata. Perubahan pendekatan, dari bantuan ke pemberdayaan, dari reaktif ke preventif, adalah kunci untuk menciptakan Bogor yang lebih baik.