Eventbogor.com – Hoaks di dunia maya ternyata nggak cuma bikin gundah, tapi bisa berujung pada kerusuhan fisik yang nyata.

Saat disinformasi menyebar tanpa kendali, dampaknya bisa merembet ke ranah sosial dan ekonomi, bahkan memicu tindakan anarkis seperti penjarahan.

Inilah yang membuat Uya Kuya, atau yang dikenal sebagai Surya Utama, akhirnya memilih jalan hukum sekaligus membuka sayembara publik untuk melawan arus hoaks terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dia sempat mengalami trauma beneran karena isu liar yang menyebut dirinya menguasai 750 dapur MBG—angka yang sama sekali nggak masuk akal dan nggak pernah dia klaim.

Berawal dari foto editan yang diedarkan dengan narasi menyesatkan, konten itu cepat menyebar bagai virus di berbagai platform media sosial.

Banyak netizen yang langsung percaya, padahal fakta di lapangan sama sekali nggak mendukung klaim tersebut.

Uya sendiri langsung angkat suara dan menegaskan bahwa dia nggak pernah bilang punya ratusan dapur, apalagi sampai segitu banyaknya.

Baginya, ini bukan cuma soal nama baik, tapi juga soal kepercayaan publik terhadap program sosial yang seharusnya membantu masyarakat.

Untuk mempercepat proses pelacakan pelaku, dia lantas menawarkan hadiah Rp1 juta bagi siapa saja yang bisa memberikan informasi akurat tentang akun-akun yang bertanggung jawab.

Tidak main-main, janji itu disampaikan secara terbuka, dengan catatan informasi harus benar-benar valid dan bisa ditindaklanjuti.

BACA JUGA :  Gunung Putri Jadi Contoh: Bupati Bogor Ubah Desa Jadi Prototipe Percontohan 2026

Kata Uya, “Rp1 juta masing-masing, kalau memang tepat dan benar,” menunjukkan keseriusannya dalam melibatkan warganet sebagai mitra detektif digital.

Langkah ini cukup unik, karena jarang publik figur yang mau ambil inisiatif semacam ini meski sudah dilaporkan ke polisi.

Laporan resmi sendiri telah diajukan ke Tim Siber Polda Metro Jaya pada Sabtu, 18 April 2026, dan kini sedang dalam proses penyelidikan intensif.

Beberapa akun dari berbagai platform diduga terlibat dalam rantai penyebaran konten manipulatif, baik sebagai pembuat maupun penyebar ulang.

Pihak kepolisian tengah mengumpulkan bukti digital, termasuk metadata dan jejak rekam aktivitas online para tersangka potensial.

Kasus ini menjadi cermin betapa rentannya masyarakat terhadap hoaks, terutama saat topik yang diangkat menyentuh isu distribusi bantuan sosial.

Di satu sisi, ada kebutuhan mendesak akan literasi digital yang lebih kuat, supaya orang nggak mudah terpancing emosi oleh konten yang belum jelas asal-usulnya.

Di sisi lain, sistem hukum juga harus responsif, karena penyebaran hoaks bisa berdampak pada ketertiban umum.

Langkah Uya Kuya, meskipun kontroversial bagi sebagian orang, setidaknya membuka diskusi baru tentang kolaborasi antara masyarakat dan aparat penegak hukum dalam memerangi disinformasi.

Apakah sayembara semacam ini bisa jadi preseden positif di masa depan? Mungkin iya, selama tetap berada dalam koridor hukum dan nggak memicu perburuan liar di dunia maya.

BACA JUGA :  Kenapa Judi Online Susah Hilang dari Internet?

Yang jelas, kasus ini mengingatkan kita semua: sebelum share sesuatu, cek dulu—karena satu klik bisa berubah jadi petaka bagi orang lain.