Beliau bahkan memberi perbandingan: menyembelih kambing untuk dibagikan kepada fakir miskin di hari biasa sudah mendapat pahala besar.
Namun, jika penyembelihan itu dilakukan tepat pada masa Idul Adha atau di bulan haji, pahalanya melonjak jauh, bahkan tak bisa dibandingkan.
“Nggak bisa dibandingkan,” ulang Buya Yahya, menekankan betapa istimewanya waktu dan konteks dari ibadah kurban.
Karena itu, ia mengajak semua umat Muslim yang mampu untuk tak melewatkan kesempatan ini.
Bahkan bagi yang belum bisa pergi haji, berkurban jadi jalan alternatif untuk meraih ganjaran besar di bulan yang dimuliakan.
Tidak hanya soal pahala, berkurban juga mengandung nilai pendidikan, sosial, dan kebersamaan yang kuat.
Ini soal ketaatan, tapi juga soal berbagi—dua nilai yang sangat dibutuhkan di tengah dinamika kehidupan saat ini.
Jadi, bagi yang bertanya apakah berkurban wajib atau sunnah, jawabannya memang sunnah muakkad, tapi dampaknya terasa jauh melampaui sekadar kewajiban formal.
Bagi yang ingin menambah keberkahan di bulan haji, berkurban jadi salah satu pintu yang paling terbuka lebar.