Bagi yang menyukai fenomena halus dan estetis, Earthshine bisa jadi tontonan menarik di awal dan pertengahan bulan.
Fenomena ini terjadi saat bagian gelap bulan tampak redup bersinar karena terkena pantulan cahaya matahari dari permukaan Bumi.
Earthshine bisa diamati dua kali dalam bulan Mei 2026, yaitu pada 12 hingga 13 Mei menjelang fajar, dan 19 hingga 20 Mei setelah matahari terbenam.
Sementara itu, pada 17 Mei 2026, dunia akan mengalami fase Super New Moon, saat bulan berada pada titik terdekat dengan Bumi namun tidak terlihat dari permukaan karena posisinya tepat di antara Bumi dan Matahari.
Meski tak terlihat, fase ini berdampak pada pasang surut laut yang lebih ekstrem.
Di penghujung bulan, langit kembali menawarkan kejutan dengan munculnya Blue Moon, istilah yang digunakan ketika terjadi dua bulan purnama dalam satu bulan kalender.
Blue Moon tidak benar-benar berwarna biru, melainkan lebih merujuk pada kelangkaan fenomenanya.
Untuk menikmati semua fenomena ini secara optimal, disarankan mencari lokasi dengan langit gelap, jauh dari polusi cahaya, dan cuaca cerah.
Beberapa di antaranya, seperti hujan meteor, akan terasa jauh lebih spektakuler jika diamati dari dataran tinggi atau area pedesaan.
Dengan sedikit persiapan, Mei 2026 bisa menjadi bulan yang tak terlupakan bagi para pengamat langit di Indonesia.