Eventbogor.com – Setiap kali momen Lebaran tiba, ada saja pertanyaan yang bikin gelisah, meski disampaikan dengan senyum.
“Kapan nikah?” atau “Kapan punya anak?” jadi kalimat yang hampir pasti muncul saat kumpul keluarga besar.
Bagi sebagian orang, pertanyaan ini terdengar biasa saja, bahkan lucu.
Tapi bagi lainnya, itu bisa jadi beban emosional yang berat, apalagi kalau datang dari tante atau om yang baru ketemu setahun sekali.
Lebaran memang identik dengan silaturahmi, makan bersama, dan kehangatan keluarga.
Namun di balik semua itu, tak sedikit yang justru merasa tertekan, cemas, bahkan kelelahan mental karena tekanan sosial yang terasa menggantung.
Selain pertanyaan pribadi yang menusuk, perubahan rutinitas juga jadi faktor stres.
Dari bangun pagi-pagi untuk bersih-bersih rumah, menerima tamu bertubi-tubi, sampai menghadiri acara halal bihalal satu per satu.
Belum lagi ekspektasi budaya yang kadang tak tertulis: harus terlihat bahagia, sukses, dan punya pencapaian yang bisa dibanggakan.
“Kita sering merasa harus selalu tersenyum, melayani, dan menjaga suasana,” kata Nur Islamiah, MPsi, PhD, psikolog sekaligus dosen di Fakultas Ekologi Manusia IPB University.