Sebagaimana diriwayatkan dari Ummu ‘Athiyyah, Rasulullah SAW memerintahkan seluruh perempuan, termasuk anak perempuan yang belum balig dan wanita haid, untuk keluar rumah dan hadir di tempat salat.
Wanita yang sedang haid tidak ikut salat, tetapi dianjurkan hadir untuk menyaksikan keberkahan dan turut dalam takbir serta doa bersama.
Ini menunjukkan betapa inklusifnya perayaan Idul Fitri, bukan hanya soal ibadah formal, tapi juga momentum silaturahmi dan syiar agama.
Bagi yang akan menjadi imam, bacaan niatnya adalah: Ushollii sunnatal ‘iidil fithri rak’ataini ma’muuman lillahi ta’aalaa.
Sementara makmum membaca: Ushollii sunnatal ‘iidil fithri rak’ataini imaaman lillahi ta’aalaa.
Setiap lafal diucapkan dengan penuh kesadaran, di dalam hati, sebelum takbiratul ihram.
Meski terdiri dari dua rakaat saja, salat Id memiliki keistimewaan tersendiri dibanding salat lainnya.
Dimulai dengan tujuh takbir di rakaat pertama dan lima takbir di rakaat kedua, dilanjutkan dengan khutbah yang mengingatkan umat akan makna kemenangan setelah Ramadan.
Di balik kesederhanaannya, ibadah ini menyimpan ganjaran pahala yang besar di sisi Allah SWT.
Bagi yang menjalankannya dengan ikhlas, bukan hanya pahala yang didapat, tapi juga ketenangan batin dan rasa syukur yang mendalam.