Melansir dari NU Online, menyaksikan prosesi kurban juga jadi bagian dari pendidikan spiritual, mengingatkan kita pada makna pengorbanan dan rasa syukur.
Selain itu, hewan harus ditempatkan dengan posisi yang tenang, nggak diganggu atau dibuat stres sebelum disembelih.
Bahkan disarankan agar hewan nggak melihat proses penyembelihan hewan lain, atau melihat alat sembelih yang sudah berlumuran darah.
Waktu penyembelihan juga diperhatikan—sebaiknya dilakukan setelah shalat Idul Adha, dan dilanjutkan selama tiga hari Tasyrik.
Saat menyembelih, posisi hewan harus diletakkan berbaring miring, dengan kepala menghadap ke arah kiblat—ini berlaku untuk kambing, sapi, atau unta.
Alat sembelih harus tajam dan digunakan dengan satu gerakan cepat untuk memotong tenggorokan, kerongkongan, dan pembuluh darah utama di leher.
Tujuannya jelas: mempercepat kematian dan mengurangi penderitaan sekecil mungkin.
Saat prosesi berlangsung, disunahkan membaca basmalah dan doa sembelih yang sesuai syariat.
Doa ini bukan sekadar formalitas, tapi pengakuan bahwa hewan ini disembelih atas nama Allah, bukan untuk tujuan lain.
Yang tak kalah penting, daging kurban harus dibagikan dengan adil—ke keluarga, tetangga, dan terutama fakir miskin.