Tujuannya jelas: bukan cuma hemat biaya operasional, tapi juga mempercepat pengambilan keputusan, memperkuat kolaborasi, dan menciptakan nilai tambah yang bisa dirasakan publik.
Sigit bilang, penyelarasan digital ini penting banget buat meningkatkan daya saing BUMN di level global, sekaligus memperkuat konsep Indonesia Inc—di mana BUMN, pemerintah, dunia kampus, dan industri swasta bisa saling menguatkan.
Transformasi ini juga nggak cuma soal efisiensi, tapi juga soal kesiapan menghadapi gelombang teknologi masa depan.
Danantara menyoroti empat area krusial: kecerdasan artifisial (AI), advanced analytics, kesiapan post-kuantum, dan keamanan siber—semuanya jadi fokus utama dalam strategi digital BUMN ke depan.
Dengan ancaman serangan siber yang makin canggih dan kompleks, integrasi sistem harus dibarengi dengan pertahanan digital yang solid dan terkoordinasi.
Di sisi lain, pemanfaatan AI dan analitik lanjutan bisa jadi game changer, misalnya dalam optimasi rantai pasok, prediksi pemeliharaan mesin, atau bahkan deteksi fraud di layanan publik.
Yang menarik, Danantara nggak cuma ingin BUMN hemat, tapi juga jadi mesin inovasi nasional—tempat teknologi strategis bisa dikembangkan dan diadopsi secara masif.
Jika berhasil, integrasi digital ini bisa jadi fondasi kuat bagi kedaulatan digital Indonesia, bukan sekadar proyek birokrasi yang hilang ditelan waktu.
Langkah ini juga jadi ujian nyata: apakah BUMN mampu berubah dari entitas tradisional menjadi pelaku digital yang lincah dan terkoneksi?
Di tengah tekanan global dan persaingan ekonomi yang makin ketat, transformasi ini bukan lagi pilihan—tapi keharusan.