Jujur, olahraga di Indonesia nggak cuma soal menang-kalah lagi—ini udah jadi bagian dari cara kita hidup.
Angkanya aja bikin geleng-geleng: survei Populix 2025 bilang 94 persen masyarakat rutin olahraga minimal seminggu sekali.
Itu bukan angka main-main, tapi sinyal kuat kalau gaya hidup aktif udah merasuk ke semua lapisan, dari anak muda sampai yang udah bapak-bapak.
Dari lari pagi, main padel, sampai nge-gym bareng temen, olahraga sekarang jadi ajang kumpul, saling kenal, dan bikin ikatan yang susah ditemuin di tempat lain.
Nggak heran kalau Se’Indonesia mulai serius masuk ke ranah ini, bukan cuma lewat produk, tapi juga dukungan langsung ke komunitas olahraga—mulai dari basket, futsal, combat sport, sampai yang paling emosional: sepak bola.
Ya, sepak bola.
Meski cabang lain lagi naik daun, lapangan hijau tetap jadi tempat yang nggak bisa digantikan.
Indonesia bahkan duduk di peringkat tiga dunia soal jumlah penggemar sepak bola, menurut data Country Cassette.
Itu artinya, bola bukan cuma olahraga—ini soal identitas, soal kebanggaan, soal kampung halaman, bahkan soal keluarga.
Se’Indonesia ngerti betul energi itu.
Makanya mereka makin intens terlibat, khususnya dengan mendukung dua raksasa sepak bola nasional: Persija dan Persib.
Dua tim ini lebih dari sekadar klub—mereka wujud dari semangat komunitas yang hidup dan bernapas bareng masyarakat.
“Kami melihat sepak bola sebagai ruang yang menyatukan, tempat dimana perbedaan bisa dilupakan sejenak,” kata Rinaldi Dharma Utama, CEO dan Founder Se’Indonesia.
Baginya, nilai-nilai dalam sepak bola—disiplin, konsistensi, dan semangat berkembang—itu sama persis dengan yang ingin dibawa oleh brand lokal seperti Se’Indonesia.
Bukan cuma jualan, tapi ikut membangun pengalaman yang bermakna.
Nggak cuma numpang lewat, mereka bawa aksi nyata: nonton bareng pertandingan Persija vs Persib, 10 Mei 2026, di lima outlet dine-in Se’Indonesia.
Bayangin suasana: layar lebar, suara sorak-sorai, aroma se’i sapi dan se’i ayam yang baru keluar dari panggangan—semua menyatu jadi momen kebersamaan yang autentik.
Makanan yang mereka tawarkan juga nggak asal enak.
Se’i sapi dan se’i ayam, yang kaya protein, sengaja diposisikan sebagai pilihan makanan pendukung gaya hidup aktif—bukan cuma buat atlet, tapi juga buat lo yang baru selesai lari atau main futsal sore.
Jadi, nobar ini bukan cuma soal dukung tim favorit, tapi juga soal merayakan semangat hidup sehat, rasa bangga pada produk lokal, dan kebersamaan yang makin langka di tengah hiruk-pikuk kota.
Langkah Se’Indonesia ini bisa jadi sinyal awal dari tren baru: kolaborasi antara brand makanan lokal dengan budaya olahraga yang mendalam.
Di mana makanan bukan cuma pelengkap, tapi bagian dari ekosistem gaya hidup yang utuh.
Dan siapa tahu, ke depannya bakal makin banyak brand yang ngikut, bukan cuma di sepak bola, tapi di semua ruang di mana orang berkumpul, berkeringat, dan saling mendukung.
