Eventbogor.com – Warga Kampung Parungsapi RT 02 RW 10, Desa Sipak, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, menggelar aksi gotong royong membersihkan saluran irigasi yang tersumbat lumpur dan sampah pada Jumat (22/5/2026).

Upaya ini dilakukan sebagai bagian dari pencegahan dini terhadap genangan dan potensi banjir, terutama mengingat intensitas hujan yang masih tinggi di wilayah Bogor pada tahun 2026.

Kegiatan pembersihan fokus pada pengangkatan sedimentasi tanah, pasir, serta sampah yang menumpuk di sepanjang jalur irigasi utama.

Sejak pagi hari, warga terlihat aktif membersihkan gorong-gorong dan saluran air menggunakan peralatan sederhana.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya kolektif masyarakat untuk menjaga kelancaran aliran air yang vital bagi pertanian dan drainase lingkungan.

Ketua RW 10, Bahtiar, menjelaskan bahwa kerja bakti merupakan tindakan antisipatif yang direncanakan secara swadaya oleh warga.

Menurutnya, kelancaran aliran air harus dipastikan demi mencegah genangan saat hujan deras melanda.

“Kami bersama warga sepakat untuk membersihkan saluran secara rutin agar tidak tersumbat oleh sampah atau endapan lumpur,” ujarnya saat ditemui di lokasi.

Ia menambahkan bahwa material lumpur yang diangkat kemudian diangkut ke lokasi yang aman agar tidak kembali masuk ke saluran saat hujan.

Saluran irigasi di Desa Sipak merupakan jalur distribusi air dari Bendungan Sendung yang melayani kebutuhan pertanian dan rumah tangga warga di wilayah hilir.

BACA JUGA :  Dampak Hidrometeorologi di Bogor Barat: Banjir dan Longsor Terjang Sejumlah Kecamatan pada Akhir April 2026

Kang Ayeh, salah satu warga pelaku gotong royong, menegaskan bahwa kondisi sedimentasi di saluran sudah mencapai tingkat mengkhawatirkan.

“Tumpukan tanah dan pasir ini bisa menghambat aliran air secara signifikan,” katanya.

“Jika dibiarkan, air bisa meluap dan menyebabkan banjir di permukiman warga,” lanjutnya.

Menurutnya, kegiatan pembersihan semacam ini telah menjadi tradisi tahunan yang dilakukan secara swadaya oleh masyarakat sekitar.

Tradisi gotong royong ini mencerminkan kesadaran kolektif warga Jasinga terhadap pentingnya menjaga infrastruktur irigasi lokal.

Berdasarkan data lapangan, persoalan sedimentasi dan kerusakan saluran irigasi di Jasinga masih menjadi tantangan besar sejak bencana banjir besar tahun 2020.

Endapan lumpur, pertumbuhan tumbuhan liar, serta kerusakan fisik pada saluran menjadi faktor utama yang mengganggu distribusi air.

Kondisi ini sering kali menyulitkan petugas Unit Pelaksana Teknis (UPT) Irigasi Jasinga dalam menjalankan tugas pemeliharaan rutin.

Bahkan, beberapa petugas dikabarkan harus mengeluarkan dana pribadi untuk mendukung operasional pembersihan di titik-titik kritis.

Keterbatasan anggaran dan minimnya intervensi dari instansi terkait membuat masyarakat harus mengambil peran utama dalam pemeliharaan saluran irigasi.

Padahal, saluran irigasi berperan strategis dalam mendukung ketahanan pangan lokal melalui suplai air untuk sawah warga.

Dengan kondisi curah hujan yang diprediksi tetap fluktuatif hingga akhir 2026, upaya pencegahan dini seperti ini menjadi semakin krusial.

Pemerintah daerah dan instansi teknis diharapkan dapat memberikan dukungan lebih nyata, baik secara logistik maupun anggaran.

BACA JUGA :  Charli XCX 'Kerasukan' Horor: Debut Akting Bareng Sutradara Horor Legendaris

Kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah dinilai menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan fungsi irigasi di kawasan pertanian Bogor.

Warga berharap, kegiatan gotong royong yang dilakukan secara sukarela ini bisa memicu respons cepat dari pihak terkait untuk melakukan pembenahan struktural.

Pemeliharaan rutin dan perbaikan infrastruktur irigasi bukan hanya tanggung jawab warga, tetapi juga bagian dari kewajiban pemerintah dalam menjamin kesejahteraan masyarakat.