Eventbogor.com – Debit air Sungai Cidurian kembali meningkat secara signifikan pada Senin dini hari, sekitar pukul 02.15 hingga 05.20 WIB, menyebabkan luapan yang memicu ambruknya bronjong penahan tebing di Kampung Nanggung, Desa Sukamaju, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor.

Kejadian ini terjadi di tengah musim hujan yang masih berlangsung hingga pertengahan 2026, menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan masyarakat sekitar terhadap potensi bencana susulan.

Luapan Sungai Cidurian dan kerusakan infrastruktur penahan erosi menjadi sorotan utama, mengingat lokasi tersebut berada di dekat permukiman warga dan jalur lalu lintas vital desa.

Eventbogor.com – Kondisi bronjong yang ambruk berpotensi membahayakan keselamatan warga, terutama pengguna jalan harian seperti kendaraan bermotor dan pedagang kaki lima yang melintasi area tersebut.

Peningkatan debit sungai diduga dipicu oleh curah hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir yang mengguyur wilayah hulu Sungai Cidurian.

Aliran deras sungai menyebabkan tekanan besar pada struktur bronjong yang sudah berusia cukup lama dan diduga mengalami kerusakan bertahap sebelum akhirnya runtuh total.

Warga setempat khawatir bahwa kerusakan ini bisa memicu longsor susulan atau merusak fondasi jembatan desa yang menjadi penghubung antar kampung.

Eventbogor.com – Jalur desa di Kampung Nanggung merupakan akses penting yang menghubungkan beberapa wilayah di sepanjang aliran Sungai Cidurian, termasuk Kampung Cigowong, Mekarjaya, Nanggung, dan Ciasahan.

Nde (32), warga Desa Sukamaju, menekankan pentingnya keberadaan jalur tersebut bagi aktivitas ekonomi dan mobilitas harian masyarakat.

BACA JUGA :  DLH Kabupaten Bogor Tindak Lanjuti Dugaan Pencemaran Sungai Cidurian di Jasinga

“Ambruknya bronjong ini membuat lalulalang mobil dan motor jadi berisiko. Kami khawatir keselamatan warga,” ujarnya kepada wartawan, Senin, Mei 2026.

Dampak luapan tidak hanya terbatas pada infrastruktur jalan, tetapi juga mengancam lahan pertanian dan perkebunan milik warga yang tersebar di sepanjang bantaran sungai.

Eventbogor.com – Kerusakan pada lahan produktif bisa berdampak langsung terhadap mata pencaharian petani dan perajin lokal yang bergantung pada hasil bumi.

Banyak warga yang mulai mengingat kembali bencana besar pada 1 Januari 2020, ketika banjir dan longsor melanda tiga kecamatan di Bogor Barat: Cigudeg, Sukajaya, dan Jasinga.

Saat itu, desa-desa seperti Urug, Harkatjaya, Sukaraksa, Bunar, Mekarjaya, Kalongsawah, Sipak, Pamagarsari, Setu, dan Koleang mengalami kerusakan parah.

Eventbogor.com – Kejadian tersebut menyebabkan sejumlah korban jiwa, kerusakan rumah, serta lumpuhnya akses transportasi selama beberapa hari.

Kini, dengan munculnya tanda-tanda serupa, masyarakat berharap pemerintah tidak menunggu bencana besar terulang sebelum mengambil tindakan nyata.

Eventbogor.com – Nde menyerukan agar pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), segera melakukan peninjauan lapangan.

Ia menekankan pentingnya normalisasi aliran Sungai Cidurian untuk mencegah meluapnya air saat musim hujan tiba.

“Saya berharap pemerintah segera mengambil langkah penanganan agar bencana serupa tidak terus berulang,” pungkasnya.

Eventbogor.com – Pemulihan ekosistem sungai dan penguatan infrastruktur riparian menjadi prioritas yang mendesak untuk dilaksanakan di tahun 2026.

BACA JUGA :  DLH Kabupaten Bogor Tangani Perubahan Warna Air Sungai Cidurian di Jasinga

Upaya ini tidak hanya melindungi warga dari ancaman banjir, tetapi juga menjaga keberlanjutan sumber daya alam di wilayah Bogor Barat.

Langkah-langkah pencegahan dini seperti pemasangan bronjong baru, pengerukan sedimen, dan reboisasi daerah hulu perlu segera direncanakan secara komprehensif.

Eventbogor.com – Masyarakat menunggu respons cepat dari instansi terkait untuk memastikan keselamatan dan keberlangsungan hidup mereka tidak terancam oleh kondisi lingkungan yang terus memburuk.