EventBogor.com – Hujan deras kembali ‘menguji’ Kota Bogor. Rabu (15/4/2026) sore, Kampung Babakan Fakultas, Kelurahan Tegallega, kembali terendam banjir lintasan. Kali ini, debit air Sungai Ciparigi yang meluap menjadi biang kerok, merendam puluhan rumah warga. Sebuah pemandangan yang seolah sudah menjadi rutinitas, bukan?
‘Langganan’ Banjir: Lebih Dari Sekadar Hujan
Bayangkan Anda baru saja selesai bekerja, ingin beristirahat di rumah. Namun, sesampainya di rumah, air sudah lebih dulu menyambut, menggenangi perabotan dan memori indah Anda. Inilah yang dialami warga Kampung Babakan Fakultas. Hujan deras memang pemicunya, namun akar masalahnya lebih dalam.
Lurah Tegallega, Hardi Suhardiman, mengakui hal ini. Intensitas hujan yang tinggi memang menjadi pemicu utama, namun penyempitan sungai dan banyaknya bangunan liar di atasnya menjadi ‘pelengkap penderita’. Ibarat saluran air yang tersumbat, air meluap mencari jalan keluar, menggenangi rumah-rumah warga.
Penyebab Multidimensional: Lebih Dari Sekadar Curah Hujan
Sungai Ciparigi, urat nadi kehidupan di kawasan ini, kini tak lagi mampu menampung debit air yang meningkat. Penyempitan sungai akibat berbagai faktor, ditambah ‘gangguan’ dari bangunan di atasnya, membuat banjir tak terhindarkan. Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa air sungai berasal dari wilayah lain, sehingga penanganan tak bisa dilakukan secara parsial.
Sebanyak 80 rumah di lima RW (3, 4, 5, 7, dan 8) menjadi saksi bisu. Meski tak ada korban jiwa, kerugian materiil tak bisa dihindari. Perabotan rusak, aktivitas terganggu, dan trauma terus membayangi.
Apa Artinya Bagi Kantong dan Kehidupan Anda?
Banjir lintasan bukan hanya soal air yang menggenang. Ini adalah soal kerugian materiil, gangguan aktivitas, dan tentu saja, dampak psikologis. Rumah menjadi tak layak huni, barang-barang rusak, dan waktu terbuang untuk membersihkan sisa-sisa banjir. Biaya perbaikan, penggantian barang, dan potensi kehilangan pendapatan menjadi beban tambahan.
Bagi warga Babakan Fakultas, banjir bukan lagi sekadar berita, melainkan bagian dari keseharian. Bagi kita semua, ini adalah pengingat bahwa penanganan banjir memerlukan solusi komprehensif, bukan hanya sekadar imbauan menjaga kebersihan sungai. Butuh sinergi lintas pihak, dari pemerintah hingga masyarakat, untuk mencari solusi jangka panjang.
Tantangan Ke Depan: Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Warga, seperti Budi (51), merasakan langsung dampak banjir yang semakin parah. Banjir kali ini disebut sebagai yang terparah. Lalu, bagaimana masa depan? Apakah kita akan terus ‘berlangganan’ banjir setiap kali hujan datang? Atau, ada solusi konkret yang bisa mengubah nasib warga?
Pertanyaan ini menjadi pekerjaan rumah bersama. Membenahi infrastruktur, menertibkan bangunan liar, dan meningkatkan kesadaran masyarakat adalah langkah-langkah krusial. Semoga, banjir di Bogor bukan lagi berita rutin, melainkan catatan sejarah kelam yang berhasil diatasi.
