HALLOBOGOR.COM – Transformasi digital di tubuh BUMN kini berada di ujung penentuan: apakah akan jadi sekadar proyek megah yang tak berdampak, atau benar-benar menjadi pemicu efisiensi dan lompatan teknologi nasional.
Pertanyaannya sederhana namun krusial: bisa nggak integrasi sistem lewat Danantara Indonesia benar-benar pangkas pemborosan digital hingga 40 persen, sekaligus percepat lahirnya teknologi strategis buatan anak bangsa?
Jawabannya mulai terlihat setelah Danantara Indonesia mengambil langkah tegas mempercepat integrasi teknologi antar-BUMN, dengan misi jangka panjang memperkuat efisiensi dan daya saing nasional.
Langkah ini dicanangkan dalam Rapat Koordinasi Transformasi Digital BUMN yang digelar di Jakarta, dipimpin langsung oleh Chief Technology Officer Danantara Indonesia, Sigit Puji Santosa, bersama perwakilan dari sekitar 60 holding BUMN.
Fokus utamanya bukan cuma soal menghemat anggaran, tapi juga membangun ekosistem digital yang terintegrasi, saling terhubung, dan dikelola secara strategis demi kepentingan negara.
Sigit menekankan bahwa Danantara punya peran kunci menyatukan arah teknologi, platform, SDM digital, dan tata kelola agar setiap inisiatif digital di BUMN nggak jalan sendiri-sendiri seperti selama ini.
Selama ini, belanja teknologi, lisensi software, infrastruktur digital, dan layanan IT lintas BUMN masih penuh tumpang tindih—yang pada akhirnya cuma bikin boros anggaran negara.
Kondisi ini, menurut Danantara, membuka ruang efisiensi besar: antara 25 hingga 40 persen, tergantung sejauh mana kesiapan masing-masing perusahaan pelat merah.
Bayangkan saja, puluhan BUMN beli sistem cloud terpisah, pakai platform data berbeda, bahkan rekrut talenta digital dengan kebutuhan serupa—tapi nggak saling terhubung.
Dengan integrasi platform dan layanan bersama, Danantara ingin semua itu berubah: satu ekosistem, satu arah, satu kekuatan.