Eventbogor.com – Ketahanan pangan Indonesia terhadap guncangan global menjadi sorotan di tengah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada jalur perdagangan internasional.

Indonesia klaim aman dari dampak konflik Timur Tengah global berkat strategi diversifikasi impor dan ketergantungan minimal terhadap negara di kawasan rawan konflik.

Ketahanan pangan nasional saat ini menjadi fokus utama pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global yang terus meningkat.

Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional, Sarwo Edhy, menyatakan bahwa neraca pangan nasional diproyeksikan surplus hingga pertengahan 2026.

Hal ini menunjukkan bahwa sistem pasok pangan dalam negeri tetap terkendali meskipun terjadi gangguan di jalur distribusi global.

Menurut Sarwo Edhy, jalur impor pangan Indonesia tidak melintasi kawasan konflik sehingga risiko terganggunya pasokan sangat kecil.

“Ketersediaan pangan kita sangat cukup, sehingga dampak konflik belum dirasakan secara signifikan,” ujarnya pada Senin, 27 April 2026.

Pernyataan ini memberikan keyakinan bahwa Indonesia mampu menjaga ketahanan pangan meskipun menghadapi tekanan dari krisis global.

Struktur impor pangan Indonesia dirancang untuk meminimalkan risiko geopolitik global melalui ketergantungan pada negara-negara non-konflik.

Kedelai, salah satu komoditas penting, sebagian besar diimpor dari Amerika Serikat yang memiliki stabilitas pasokan tinggi.

BACA JUGA :  BGN Klarifikasi Kebutuhan 19.000 Sapi dalam Program MBG Hanya Simulasi, Bukan Fakta Lapangan