Eventbogor.com – Kecelakaan maut terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026, menyusul tabrakan antara Kereta Rel Listrik (KRL) dan KA Argo Bromo yang melaju dengan kecepatan hingga 110 kilometer per jam.

Insiden tersebut meninggalkan puing-puing kerusakan parah di gerbong belakang KRL, serta menelan korban jiwa sebanyak 15 orang dan 84 lainnya mengalami luka-luka.

Menurut keterangan Kompol Sandhi Wiedyanoe dari Korlantas Polri, kecelakaan bermula saat sebuah taksi listrik berwarna hijau, dikenal sebagai Green SM atau taksi ijo, mogok di perlintasan Ampera yang berada tak jauh dari stasiun.

Kendaraan itu diketahui mengalami gangguan kelistrikan tepat saat berada di atas rel arah Jakarta, membuatnya terjebak di tengah jalur kereta api.

Nahas, KRL yang melintas dengan kecepatan tinggi tak sempat menghindar dan langsung menghantam taksi tersebut hingga terseret puluhan meter.

Tumbukan keras itu memicu gangguan serius pada operasional kereta, termasuk keterlambatan sinyal dan pengaturan lintasan, yang kemudian berujung pada antrian kendaraan rel di area stasiun.

Akibat hambatan ini, satu unit KRL terpaksa berhenti di peron Stasiun Bekasi Timur, tanpa disadari bahwa KA Argo Bromo sedang melaju kencang dari arah belakang.

Dengan kecepatan penuh 110 km/jam, kereta jarak jauh itu tak bisa mengerem tepat waktu dan akhirnya menabrak bagian belakang KRL yang sedang diam.

BACA JUGA :  Bogor Berantas Obat Ilegal: Ribuan Pil Disita, Pelaku Ditangkap

Benturan hebat itu membuat gerbong paling belakang ringsek dan menyebabkan korban jiwa serta luka serius, terutama bagi penumpang yang berada di dekat titik benturan.

Kabasarnas Marsekal Madya Muhammad Syafii mengonfirmasi bahwa seluruh korban tewas merupakan perempuan dewasa, meski belum dijelaskan secara rinci identitas maupun penyebab pasti kematian mereka.

Pihak Basarnas bersama tim evakuasi gabungan bekerja hingga dini hari untuk mengevakuasi korban dan membersihkan reruntuhan di lokasi kejadian.

Sementara itu, investigasi awal yang dilakukan oleh Jatanras PMJ dan Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya mengarah pada dugaan korsleting listrik sebagai penyebab utama mogoknya taksi hijau tersebut.

Temuan sementara ini membuka pertanyaan baru soal standar keselamatan kendaraan listrik di area perlintasan aktif, terutama yang masih minim palang otomatis dan sistem peringatan digital.

Peristiwa ini juga memicu gelombang diskusi publik tentang perlunya evaluasi ulang sistem manajemen lalu lintas kereta api di kawasan urban yang padat seperti Bekasi.

Beberapa pihak mendesak PT KAI dan instansi terkait untuk mempercepat penerapan teknologi deteksi objek di rel, agar insiden serupa tidak terulang di masa depan.

Hingga Selasa pagi, layanan KRL di jalur tersebut masih mengalami penundaan dan pembatalan sejumlah perjalanan, sambil menunggu proses pemulihan infrastruktur selesai.

PT KAI menyampaikan duka mendalam atas tragedi ini dan berjanji akan memberikan kompensasi serta pendampingan psikologis kepada keluarga korban.

BACA JUGA :  Aksi Warga Sukajaya: Dua Terduga Curanmor Ditangkap, Kasus Berlanjut

Insiden ini menjadi salah satu kecelakaan kereta paling mematikan di wilayah Jabodetabek dalam lima tahun terakhir, sekaligus menjadi alarm keras bagi pembenahan sistem transportasi umum yang lebih aman dan terintegrasi.