Eventbogor.com – Realisasi investasi di Indonesia pada kuartal pertama 2026 mencatat angka Rp498,8 triliun, tumbuh 7,2 persen secara tahunan.
Pencapaian ini dipandang sebagai fondasi kuat menuju target ambisius nasional sebesar Rp2.041,3 triliun di sepanjang tahun 2026.
Dengan capaian tersebut, pemerintah telah menyelesaikan 24,4 persen dari total target tahunan hanya dalam tiga bulan pertama.
Menteri Investasi dan Hilirisasi serta Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, menilai tren ini membuktikan kepercayaan investor terhadap ekonomi domestik masih sangat tinggi.
Yang lebih menggembirakan, pertumbuhan investasi tidak berhenti pada angka saja, tapi langsung menyentuh masyarakat lewat penciptaan lapangan kerja.
Sekitar 706 ribu tenaga kerja terserap akibat proyek-proyek baru yang mulai berjalan di awal tahun ini.
Angka ini naik 18,9 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, menjadi sinyal kuat bahwa investasi kali ini lebih inklusif dan berdampak langsung.
Rosan menekankan, kualitas investasi saat ini bukan sekadar soal nilai masuk, tapi juga kontribusinya terhadap kesejahteraan rakyat.
Strategi hilirisasi yang digenjot sejak beberapa tahun terakhir tampaknya mulai membuahkan hasil nyata.
Sektor industri pengolahan, yang jadi ujung tombak hilirisasi, turut andil besar dalam menyerap tenaga kerja dan menarik aliran modal.
Komposisi investasi juga menunjukkan keseimbangan yang jarang terjadi sebelumnya antara Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).
PMA menyumbang Rp250 triliun atau 50,1 persen dari total, sementara PMDN mencapai Rp248,8 triliun atau 49,9 persen.
Proporsi yang hampir seimbang ini menunjukkan bahwa pelaku usaha lokal tak kalah agresif dibanding investor asing.
Faktor kebijakan deregulasi, stabilitas politik, dan percepatan izin berusaha disebut turut mendorong iklim investasi yang kompetitif.
Banyak pelaku bisnis dalam negeri kini melihat potensi besar di sektor manufaktur, energi bersih, dan infrastruktur digital.
Pemerintah pun optimistis bahwa tren positif ini akan terus berlanjut di kuartal selanjutnya.
Dengan strategi pemerataan wilayah dan fokus pada pengembangan ekonomi daerah, investasi diharapkan tidak lagi terpusat di Jawa.
Wilayah seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Papua mulai mendapat perhatian lebih, baik dari segi insentif maupun infrastruktur pendukung.
Jika konsistensi terjaga, momentum pertumbuhan ekonomi 2026 bisa menjadi salah satu yang paling stabil dalam satu dekade terakhir.
