Eventbogor.com – Debit air Sungai Cidurian kembali meningkat secara signifikan pada Senin dini hari sekitar pukul 02.15 hingga 05.20 WIB.

Luapan air menyebabkan bronjong penahan tebing di Kampung Nanggung, Desa Sukamaju, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, ambruk.

Peristiwa ini terjadi akibat derasnya arus sungai yang tak mampu ditahan oleh struktur bronjong yang sudah lama berdiri.

Kerusakan infrastruktur tersebut memicu kekhawatiran warga setempat terhadap potensi ancaman banjir dan longsor susulan.

Warga khawatir area permukiman dan akses jalan desa yang vital bisa terdampak secara langsung.

Lalu lintas kendaraan roda dua dan roda empat kini berisiko tinggi akibat kondisi tebing yang tidak stabil.

Padahal, jalan di lokasi merupakan jalur utama yang menghubungkan sejumlah kampung di sepanjang aliran Sungai Cidurian.

Rute tersebut mencakup Kampung Cigowong, Mekarjaya, Nanggung, hingga Ciasahan.

Nde (32), warga Desa Sukamaju, menekankan pentingnya penanganan segera dari pihak berwenang.

Ia menyatakan bahwa keselamatan warga menjadi prioritas utama saat ini.

Menurutnya, akses jalan yang rusak dapat mengganggu aktivitas ekonomi harian, termasuk pergerakan pedagang kaki lima dan petani.

Selain mengancam akses jalan, luapan sungai juga berpotensi merusak lahan pertanian dan perkebunan warga.

Banyak lahan produktif berada di sepanjang bantaran sungai dan kini terancam terkikis.

Warga khawatir kejadian serupa dengan bencana banjir besar tahun 2020 bisa terulang.

BACA JUGA :  Longsor dan Kerusakan Bronjong Ancam Warga Cigudeg Bogor, Akses Jalan Terputus

Pada 1 Januari 2020, banjir dan longsor melanda tiga kecamatan di Bogor Barat, termasuk Cigudeg, Sukajaya, dan Jasinga.

Desa-desa seperti Urug, Harkatjaya, Sukaraksa, Bunar, Mekarjaya, Kalongsawah, Sipak, Pamagarsari, Setu, dan Koleang mengalami kerusakan parah.

Insiden saat itu menyebabkan kerugian materi dan korban jiwa, sehingga meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat.

Nde berharap pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, segera turun tangan.

Langkah peninjauan dan normalisasi Sungai Cidurian dinilai mendesak untuk dilakukan.

Normalisasi diperlukan guna mengurangi risiko banjir dan melindungi infrastruktur vital di sekitar sungai.

Ia juga menekankan pentingnya penguatan struktur bronjong dan pengerukan sedimentasi dasar sungai.

Warga berharap tidak harus menunggu bencana besar terjadi kembali sebelum tindakan nyata diambil.

Pemantauan berkala terhadap debit air dan kondisi tebing sungai juga perlu ditingkatkan.

Keterlibatan pemerintah daerah dan pusat dinilai krusial dalam penanganan jangka pendek maupun panjang.

Situasi di Cigudeg menjadi pengingat bahwa pengelolaan daerah aliran sungai harus dilakukan secara berkelanjutan.

Kerusakan ekosistem hulu dan alih fungsi lahan bisa menjadi faktor pemicu meningkatnya debit air secara tiba-tiba.

Upaya mitigasi bencana harus menjadi bagian dari perencanaan tata ruang wilayah Bogor Barat.

Keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan sekitar sungai juga perlu ditingkatkan.

Pendidikan lingkungan dan partisipasi aktif warga bisa menjadi benteng pertahanan awal terhadap bencana.

BACA JUGA :  Pemkab Bogor Fokus Kembangkan Kawasan Ekonomi Baru di Cigudeg dan Sukamakmur

Eventbogor.com akan terus memantau perkembangan kondisi di lokasi dan respons instansi terkait.

Pemantauan berkelanjutan penting untuk memastikan keselamatan warga dan keberlanjutan infrastruktur pedesaan.

Kejadian di Sungai Cidurian menjadi cerminan urgensi penanganan sungai secara komprehensif di wilayah Bogor.

Integrasi teknologi pemantauan debit air dan sistem peringatan dini bisa menjadi solusi jangka panjang.

Langkah-langkah tersebut relevan dan mendesak untuk diterapkan menjelang musim hujan 2026.