Eventbogor.com – Proyek transportasi massal di Cekungan Bandung terus menghadapi tantangan serius meski kebutuhan akan sistem mobilitas yang efisien semakin mendesak.

Perkembangan pesat di sektor perumahan, khususnya di wilayah Sumedang yang telah mencatatkan keberadaan 20 kawasan baru, belum diimbangi dengan pembangunan infrastruktur transportasi yang memadai.

Transportasi massal di Cekungan Bandung kini dinilai tertinggal di tengah pertumbuhan permukiman yang pesat.

Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno menyatakan bahwa keterlambatan ini disebabkan oleh kombinasi faktor, mulai dari jalan sempit, keterbatasan anggaran, hingga ego sektoral antarlembaga.

Menurutnya, rencana pengembangan Bus Rapid Transit (BRT) dan revitalisasi kereta komuter masih terkendala persoalan infrastruktur dasar yang belum siap.

Beberapa ruas jalan utama tidak memenuhi standar untuk menunjang operasional BRT, sementara jalur kereta komuter membutuhkan penataan ulang yang kompleks.

Keterbatasan anggaran menjadi penghambat utama dalam eksekusi proyek besar seperti ini, terlebih dengan alokasi dana yang tersebar di berbagai prioritas daerah.

Selain itu, ego sektoral antara pemerintah daerah, provinsi, dan instansi vertikal turut memperlambat sinergi dalam perencanaan dan pelaksanaan.

Djoko menekankan bahwa tanpa kolaborasi kuat dan komitmen politik yang tinggi, proyek transportasi massal akan terus mandek.

Padahal, keberhasilan sistem transportasi publik sangat penting untuk mengurangi kemacetan dan polusi udara di kawasan perkotaan yang semakin padat.

Pertumbuhan permukiman tanpa didukung akses transportasi yang baik justru berpotensi memperparah krisis mobilitas di masa depan.

BACA JUGA :  THR 2026: DKI Tegas, Pelanggar Siap-Siap Kehilangan Izin Usaha!

Solusi jangka pendek seperti peningkatan layanan angkutan umum konvensional bisa menjadi langkah awal, namun tidak menggantikan kebutuhan akan sistem terintegrasi.

Pemerintah perlu segera menyusun grand design transportasi yang melibatkan semua pemangku kepentingan di Cekungan Bandung.

Keterlibatan masyarakat dan pelaku usaha juga penting dalam memastikan keberlanjutan dan keberhasilan proyek transportasi massal.

Tanpa langkah konkret, Cekungan Bandung berisiko kehilangan momentum dalam pembangunan berkelanjutan di tahun 2026 dan seterusnya.