Eventbogor.com – Kemacetan parah terjadi di jalur menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, pada Rabu sore (20/5/2026).

Antrean panjang truk sampah mengular di sepanjang Jalan Raya Galuga, menyebabkan arus lalu lintas tersendat parah.

Puluhan kendaraan pengangkut sampah terlihat parkir di badan jalan, bahkan sebagian berhenti dengan posisi melawan arah lalu lintas.

Kondisi ini mempersempit jalan dan membahayakan pengguna jalan lainnya, terutama saat jam sibuk sore hari.

TPA Galuga menjadi salah satu lokasi kritis dalam pengelolaan sampah di Bogor, dan permasalahan ini menunjukkan urgensi penataan sistem distribusi serta pengelolaan lalu lintas di sekitar fasilitas tersebut.

Kemacetan kali ini disebut warga sebagai yang paling parah dalam beberapa waktu terakhir.

Volume truk sampah yang tinggi ke TPA Galuga kerap memicu antrean, namun kali ini dampaknya lebih luas dan mengganggu aktivitas masyarakat sekitar.

Warga Galuga mengeluhkan tidak hanya kemacetan, tetapi juga bau tak sedap dan risiko kecelakaan akibat truk yang parkir sembarangan.

Anta (35), warga setempat, menyatakan bahwa kejadian serupa sering terulang, namun belum ada penanganan tegas dari pihak terkait.

“Sebenarnya sering terjadi seperti ini, cuma saat ini paling parah dan sangat menganggu pengguna jalan yang lain,” ungkapnya.

Didin, seorang pengendara yang melintas, juga mengungkapkan kekesalannya terhadap kondisi tersebut.

“Sudah macet, ganggu pengendara yang lain. Bau pula,” katanya.

BACA JUGA :  Penyaluran Hewan Kurban dan Pemotongan Sapi Bantuan Presiden Prabowo di Jawa Barat pada Idul Adha 1447 H

Antrean truk sampah yang kerap terjadi di TPA Galuga menunjukkan perlunya evaluasi terhadap kapasitas dan jam operasional lokasi pembuangan.

Sistem pengaturan kedatangan truk perlu diperbaiki agar tidak terjadi penumpukan kendaraan dalam waktu bersamaan.

Penegakan aturan lalu lintas juga harus diperketat untuk mencegah truk parkir melawan arah atau di lokasi yang membahayakan.

Warga berharap Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Perhubungan, dan kepolisian dapat berkoordinasi untuk menangani persoalan ini secara tersistem.

Solusi jangka pendek seperti pengaturan arus truk dan penempatan petugas di titik rawan bisa segera diterapkan.

Untuk jangka panjang, diperlukan kajian komprehensif terhadap kapasitas TPA Galuga dan potensi pengembangan fasilitas serupa di wilayah lain.

Infrastruktur pendukung seperti jalur khusus truk sampah juga patut dipertimbangkan untuk mengurangi beban jalan umum.

Kondisi ini menjadi cerminan tantangan pengelolaan sampah perkotaan yang semakin kompleks di Bogor.

Perlu kolaborasi antara pemerintah daerah, pengelola TPA, dan masyarakat untuk mencari solusi berkelanjutan.

Keberlangsungan arus lalu lintas dan keselamatan publik harus menjadi prioritas utama dalam pengelolaan fasilitas publik seperti TPA.

Dengan pendekatan yang terencana, kemacetan dan gangguan akibat operasional TPA Galuga dapat diminimalisir di tahun 2026 dan seterusnya.