EventBogor.com – Aroma tak sedap, menusuk hidung, bukan lagi sekadar gangguan kecil di kawasan Tanjung Priok. Lebih dari itu, tumpukan sampah di kolong tol Ir. Wiyoto Wiyono telah menjelma menjadi ancaman serius bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sekitarnya. Pelanggan kabur, omzet terjun bebas, dan harapan para pedagang kecil seolah ikut terkubur dalam timbunan sampah.

Kenapa Ini Penting Sekarang?

Bayangkan Anda sedang menikmati semangkuk mie ayam hangat di warung langganan. Namun, tiba-tiba, bau busuk menyeruak, mengganggu selera makan. Pemandangan itulah yang kini dialami para pelanggan dan pemilik warung di sekitar TPS Kencana, Tanjung Priok. Persoalan sampah yang tak kunjung tuntas ini bukan hanya soal estetika, tetapi juga menyentuh aspek ekonomi. Di tengah upaya pemerintah mendorong pertumbuhan UMKM, masalah ini justru menjadi duri dalam daging.

Dampak Nyata di Lapangan

Mari kita lihat skenario konkret. Pak Sigit, seorang pedagang mie ayam, harus merasakan pahitnya dampak langsung. Selama hampir dua bulan terakhir, warungnya sepi pembeli. “Resah soalnya baunya tengik, omzet turun soalnya orang makan bau,” keluhnya. Kondisi serupa tentu dialami pedagang lain, mulai dari warung nasi, kedai kopi, hingga toko kelontong. Pendapatan mereka menyusut, modal sulit berputar, dan mimpi mengembangkan usaha menjadi semakin berat.

Analogi yang Mudah Dipahami

BACA JUGA :  Rudy Susmanto Ajak Desa 'Satu Irama': Sinergi Kunci Majunya Bogor