Eventbogor.com – Hoaks di dunia maya ternyata bisa berujung pada kerugian nyata, bahkan memicu kekacauan di masyarakat.

Itulah yang dialami Uya Kuya, atau yang akrab dikenal sebagai Surya Utama, setelah namanya tiba-tiba terseret dalam isu tak masuk akal tentang kepemilikan 750 dapur dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Padahal, klaim itu sepenuhnya palsu, bermula dari foto hasil editan yang disebarkan dengan narasi menyesatkan lewat media sosial.

Uya sendiri langsung membantah keras, menyebut informasi tersebut sebagai bagian dari disinformasi yang sangat merugikan reputasinya.

Dampak dari hoaks ini tidak main-main—sebelumnya sempat terjadi penjarahan di lokasi tertentu karena masyarakat salah paham atas situasi yang sebenarnya.

Karena trauma itulah, Uya memilih untuk tidak tinggal diam dan mengambil dua langkah sekaligus: jalur hukum dan keterlibatan publik.

Ia telah resmi melaporkan kasus ini ke tim Siber Polda Metro Jaya pada Sabtu, 18 April 2026, dengan bukti berupa sejumlah akun yang diduga aktif menyebarkan konten manipulatif lintas platform.

Tidak hanya mengandalkan aparat, Uya juga meluncurkan sayembara terbuka dengan iming-iming hadiah Rp1 juta bagi siapa pun yang bisa memberikan informasi akurat tentang pelaku di balik penyebaran hoaks.

Satu juta rupiah per informasi, asal benar dan bisa diverifikasi, begitu janjinya.

Langkah ini dinilai cukup inovatif, karena melibatkan kesadaran kolektif warganet untuk ikut membersihkan ruang digital dari akun-akun toxic.

BACA JUGA :  Pengadaan 21.801 Motor Listrik BGN Senilai Rp1 Triliun Jadi Sorotan dalam Kasus Dugaan Korupsi

Apalagi di tengah arus informasi yang begitu deras, deteksi dini oleh publik bisa menjadi tameng pertama melawan penyebaran hoaks.

Kasus ini sekali lagi menggarisbawahi betapa pentingnya literasi digital di era sekarang.

Banyak orang masih mudah percaya tanpa verifikasi, apalagi jika kontennya provokatif dan menyentuh emosi.

Di sisi lain, upaya hukum yang ditempuh Uya juga mengirim pesan tegas: menyebarkan informasi palsu bukan sekadar candaan, tapi bisa berujung pidana.

Dengan dukungan dari kepolisian, diharapkan pelaku bisa segera terungkap dan menjadi contoh agar lain kali orang berpikir dua kali sebelum membagikan sesuatu yang belum jelas sumbernya.

Sayembara seperti ini mungkin bisa jadi model baru dalam kolaborasi masyarakat dan penegak hukum melawan disinformasi.

Sementara itu, publik diminta tetap tenang dan kritis, terutama saat melihat konten yang terasa aneh atau terlalu ekstrem.

Verifikasi cepat sebelum share, mungkin terdengar klise, tapi tetap relevan sampai kapan pun.