Eventbogor.com – Setiap kali momen Lebaran tiba, ada saja pertanyaan yang bikin gelisah, meski disampaikan dengan senyum.

“Kapan nikah?” atau “Kapan punya anak?” jadi kalimat yang hampir pasti muncul saat kumpul keluarga besar.

Bagi sebagian orang, pertanyaan ini terdengar biasa saja, bahkan lucu.

Tapi bagi lainnya, itu bisa jadi beban emosional yang berat, apalagi kalau datang dari tante atau om yang baru ketemu setahun sekali.

Lebaran memang identik dengan silaturahmi, makan bersama, dan kehangatan keluarga.

Namun di balik semua itu, tak sedikit yang justru merasa tertekan, cemas, bahkan kelelahan mental karena tekanan sosial yang terasa menggantung.

Selain pertanyaan pribadi yang menusuk, perubahan rutinitas juga jadi faktor stres.

Dari bangun pagi-pagi untuk bersih-bersih rumah, menerima tamu bertubi-tubi, sampai menghadiri acara halal bihalal satu per satu.

Belum lagi ekspektasi budaya yang kadang tak tertulis: harus terlihat bahagia, sukses, dan punya pencapaian yang bisa dibanggakan.

“Kita sering merasa harus selalu tersenyum, melayani, dan menjaga suasana,” kata Nur Islamiah, MPsi, PhD, psikolog sekaligus dosen di Fakultas Ekologi Manusia IPB University.

Wajar kalau banyak yang merasa mentalnya terkuras meski sedang libur.

Bu Mia, begitu ia akrab disapa, menekankan pentingnya mengatur ekspektasi terhadap diri sendiri.

Satu hal yang perlu diingat: kita nggak wajib menyenangkan semua orang.

BACA JUGA :  Sapi Kurban Presiden Prabowo untuk Warga Bogor Tiba di Kayumanis, Bobot Romi Capai 1,05 Ton

“Psychological boundaries atau batas psikologis itu penting,” ujarnya.

Artinya, boleh kok menolak, mengalihkan pembicaraan, atau bahkan pergi sebentar dari keramaian kalau merasa kewalahan.

Menurutnya, menghargai batas diri bukan berarti tidak menghormati keluarga.

Justru itu bentuk tanggung jawab terhadap kesehatan mental sendiri.

Ada juga yang memilih menjawab dengan santai, misalnya, “Masih cari jodohnya, Tante, doain aja ya!” atau “Kalau rejeki datang, pasti cepat, Bu.”

Strategi seperti itu bisa meredam tekanan sekaligus menjaga hubungan tetap hangat.

Yang tak kalah penting adalah membagi tugas di rumah.

Jangan biarkan satu orang menanggung semua beban persiapan dan pelayanan tamu.

Keluarga besar artinya tanggung jawab bersama, bukan cuma milik yang paling muda atau yang belum menikah.

Buat yang merasa butuh jeda, ambil waktu untuk sendiri, meski cuma 10 menit di kamar sambil mendengarkan musik atau menarik napas dalam-dalam.

Itu sudah cukup untuk menstabilkan emosi.

Lebaran memang momen istimewa, tapi bukan alasan untuk mengabaikan kesejahteraan batin.

Merayakan dengan tenang dan autentik jauh lebih berarti daripada terlihat sempurna di depan semua orang.

Jadi, kalau nanti ada yang tanya “Kapan nikah?” dan kamu belum siap menjawab, tarik napas, senyum, dan ingat: hidupmu bukan lomba yang harus selesai tepat waktu.