EventBogor.com – Senin kelabu di Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Suasana damai mendadak berubah tegang saat puluhan anggota TNI Angkatan Darat (AD) berhadapan dengan warga RW10. Perselisihan terkait sengketa lahan menjadi pemicu, menyisakan tanda tanya besar: apa yang sebenarnya terjadi?
Bayangkan Anda adalah warga Lenteng Agung. Pagi itu, Anda mungkin baru saja selesai menyeruput kopi, bersiap memulai aktivitas harian. Namun, tiba-tiba, kehadiran puluhan aparat berseragam loreng di lingkungan Anda memicu kebingungan sekaligus kekhawatiran. Pembongkaran bangunan yang dilakukan tanpa pemberitahuan jelas menjadi puncak masalah.
Sengketa Lahan: Akar Masalah yang Berujung Tegang
Konflik ini bukan datang tiba-tiba. Akar masalahnya adalah rencana pembangunan rumah susun (rusun) untuk prajurit TNI AD di lahan tersebut. Warga, yang merasa memiliki hak atas lahan itu, menolak keras rencana tersebut. Matheus Dahaklory, kuasa hukum warga, mengungkap bahwa warga telah melakukan berbagai upaya penolakan, termasuk memblokade jalan dan memasang spanduk protes.
Ketegangan mencapai puncaknya ketika salah seorang anggota TNI mencopot spanduk tersebut. Tindakan ini memicu kemarahan warga, yang merasa hak mereka diabaikan. Situasi semakin rumit ketika warga menganggap pembongkaran yang dilakukan sebagai tindakan sewenang-wenang, tanpa adanya perintah pengadilan yang sah.
