EventBogor.com – Setelah sukses meneror dengan kisah horor Jawa, kini layar lebar bersiap menerima kedatangan ‘Songko’. Film horor yang diangkat dari legenda urban Minahasa, Sulawesi Utara, ini menjanjikan pengalaman menonton yang berbeda. Bersiaplah untuk merasakan kengerian yang berakar pada mitos lokal yang selama ini jarang tersentuh.
Kenapa Ini Penting?
Film horor kerap menjadi cerminan ketakutan kolektif. Setelah dominasi kisah horor berlatar Jawa, hadirnya ‘Songko’ adalah angin segar. Ini bukan hanya hiburan, tetapi juga pengenalan budaya yang kaya dan beragam di Indonesia. Film ini menawarkan perspektif berbeda, memecah kebuntuan, dan membuka mata kita pada cerita-cerita yang selama ini tersembunyi. Ini adalah langkah berani yang patut diapresiasi.
Mengenal Lebih Dekat ‘Songko’: Teror di Kaki Gunung Lokon
Bayangkan Anda berada di desa terpencil, di bawah bayang-bayang Gunung Lokon, tahun 1986. Ketenangan yang selama ini dirasakan tiba-tiba pecah. Misteri kematian gadis-gadis muda menyelimuti desa. Kengerian merajalela, rasa curiga tumbuh subur di antara warga. Itulah latar belakang yang dibangun dalam film ‘Songko’. Sebuah film debut dari Gerald Mamahit, yang sebelumnya dikenal sebagai penulis skenario sukses ‘KKN di Desa Penari’. Kita diajak menyelami kengerian yang belum pernah kita rasakan sebelumnya.
Songko: Sosok Penghisap Darah yang Mengerikan
Dalam kepercayaan masyarakat Minahasa, Songko adalah sosok yang jauh dari kata ramah. Ia haus akan darah, mengincar kekuatan dan keabadian melalui cara yang paling keji. Mitos inilah yang menjadi pusat cerita, memicu ketegangan dan paranoia di desa. Kematian demi kematian memicu perburuan kambing hitam. Helsye, seorang ibu tiri dengan aura misterius, menjadi sasaran tuduhan sebagai jelmaan Songko. Akankah ia selamat dari tuduhan itu? Atau justru menjadi korban berikutnya?
