Padahal, di lapangan, informasi sering menyebar lebih cepat lewat grup WhatsApp desa, influencer daerah, atau aktivis media sosial yang punya kedekatan emosional dengan audiens.
Agus menyarankan agar strategi komunikasi negara mulai membangun jaringan penyampaian pesan yang dekat dengan ekosistem digital sehari-hari masyarakat, bukan hanya andalkan siaran pers dan konferensi pers.
Tanpa perubahan struktural, pergantian komandan komunikasi di Istana hanya akan terasa seperti sirkus rutin tanpa dampak nyata.
Pemerintah perlu sadar: di tahun 2026, memenangkan hati publik bukan soal siapa yang paling resmi, tapi siapa yang paling cepat, relevan, dan menyambung dengan realitas rakyat.
Jika tidak, risikonya besar—narasi nasional akan terus dibentuk oleh aktor non-resmi, sementara suara resmi hanya jadi catatan kaki di tengah hiruk-pikuk digital.