Eventbogor.com – Pertanyaannya selalu muncul di tengah kemelut energi nasional: kenapa kita masih harus mengimpor jutaan ton LPG setiap tahun, padahal negeri ini dikenal kaya akan sumber daya alam?
Fakta pahitnya, konsumsi LPG dalam negeri terus melonjak, sementara produksi lokal hanya mampu menutup sebagian kecil kebutuhan.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membuka data yang cukup mencengangkan—kebutuhan nasional mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun.
Namun dari angka itu, produksi dalam negeri baru menyumbang 1,6 hingga 1,7 juta ton saja.
Artinya, lebih dari 7 juta ton harus didatangkan dari luar, sebuah beban besar bagi neraca perdagangan dan kemandirian energi.
Lantas, dari mana asal masalah ini?
Bahlil menjelaskan, akarnya ada pada kebijakan lama: konversi minyak tanah ke LPG yang digulirkan bertahun-tahun lalu.
Kebijakan tersebut memang sukses mengubah pola konsumsi rumah tangga, tapi sayangnya tak diiringi peningkatan kapasitas produksi domestik yang memadai.
Alhasil, ketergantungan pada pasokan impor terus melekat seperti bayangan yang sulit dihilangkan.
Pemerintah pun kini dipaksa berpikir keras, bahkan kata Bahlil, “hampir tiap malam tidak istirahat” hanya untuk mencari solusi penyediaan LPG yang berkelanjutan.