Eventbogor.com – Pemerintah masih percaya diri bahwa target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,7 persen pada kuartal II-2026 bisa tercapai meski harus menghadapi tekanan dari dinamika ekonomi global.
Dengan waktu tersisa dari April hingga Juni, ruang untuk intervensi kebijakan dinilai masih cukup lebar agar ekonomi nasional tetap melaju sesuai harapan.
Salah satu andalan utama yang kini menjadi sorotan adalah percepatan belanja pemerintah sebagai pengungkit aktivitas ekonomi dalam negeri.
Pertanyaannya, apakah dorongan fiskal akan cukup ampuh menahan gejolak akibat kenaikan harga komoditas yang mulai memengaruhi daya beli masyarakat?
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut bahwa kondisi makro saat ini masih memberi fleksibilitas bagi pemerintah untuk melakukan penyesuaian kebijakan secara responsif.
Ia menekankan pentingnya evaluasi data ekonomi bulanan, terutama dari periode April hingga Juni, sebagai dasar pengambilan keputusan strategis ke depan.
Langkah ini dimaksudkan agar respons kebijakan tidak hanya cepat, tapi juga tepat sasaran dan berbasis bukti.
Tantangan terbesar saat ini datang dari fluktuasi harga komoditas global, terutama minyak kelapa sawit, yang berpotensi memberi tekanan besar pada inflasi dan biaya hidup masyarakat.
Kenaikan harga bahan baku utama ini bisa merembet ke sektor lain jika tidak dikelola dengan baik.
Oleh karena itu, koordinasi intensif antar kementerian dan lembaga terus digencarkan guna memitigasi dampak negatif yang lebih luas.