Eventbogor.com – Rotasi jabatan komunikasi di lingkungan Istana kembali terjadi, namun publik masih mempertanyakan efektivitasnya dalam merespons dinamika informasi zaman now.
Fakta bahwa pergantian personel belum dibarengi transformasi sistem membuat banyak pihak pesimistis soal perbaikan narasi nasional.
Agus Sullistriyono, CEO Promedia Group, menekankan bahwa yang dibutuhkan bukan sekadar wajah baru, melainkan pendekatan berbasis algoritma digital yang mampu mengejar kecepatan opini di ruang maya.
Dia bilang, selama strategi komunikasi pemerintah masih mengandalkan prosedur birokratis yang panjang, jangan harap bisa bersaing dengan laju konten viral.
Di era di mana satu unggahan bisa membentuk opini dalam hitungan jam, pemerintah justru kerap datang belakangan dengan klarifikasi resmi yang sudah telat diproses.
Padahal, saat rilis resmi akhirnya keluar, mayoritas masyarakat sudah punya kesimpulan sendiri dari apa yang mereka lihat di media sosial.
Algoritma platform seperti TikTok, Instagram, dan X (dulu Twitter) tidak peduli dengan status resmi—yang diutamakan adalah kecepatan, relevansi, dan tingkat interaksi.
Konten pertama yang muncul, meski belum tentu akurat, cenderung menjadi acuan utama bagi netizen dalam menyusun persepsi.
Inilah yang membuat pemerintah selalu tertinggal dalam framing isu, bahkan ketika argumen mereka lebih kuat secara data dan fakta.
Selama ini, distribusi informasi pemerintah masih terlalu bergantung pada media nasional arus utama, yang dianggap kredibel tapi jangkauannya tidak seluas jaringan lokal atau komunitas mikro di dunia digital.