Eventbogor.com – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti pengaturan tata ruang di kawasan Batutulis, Bogor, yang dinilai tidak selaras dengan kondisi alam dan nilai sejarah yang dimiliki wilayah tersebut.

Penataan fungsi lahan di Batutulis menurutnya perlu dievaluasi secara menyeluruh agar tidak mengabaikan aspek ekologis dan budaya yang menjadi ciri khas kawasan Sunda.

Dedi Mulyadi menekankan pentingnya pendekatan akademik dalam memahami situs-situs bersejarah seperti Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake Pajajaran.

Menurutnya, warisan budaya Sunda seharusnya tidak diperlakukan sebagai benda klenik atau sekadar mitos, melainkan sebagai objek kajian ilmiah yang dapat memberikan pemahaman mendalam tentang peradaban masa lalu.

Pemahaman akademik ini diharapkan mampu memperkuat identitas masyarakat Jawa Barat sekaligus menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan pembangunan yang berkelanjutan.

Selain itu, Dedi Mulyadi juga mengingatkan agar pengembangan kawasan tidak mengorbankan keberadaan situs-situs purbakala yang rentan terdampak oleh aktivitas urbanisasi dan ekspansi infrastruktur.

Upaya konservasi harus didukung oleh kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, dan komunitas lokal agar nilai sejarah tetap terjaga hingga 2026 dan seterusnya.

Prasasti Batutulis, sebagai salah satu situs paling berarti dalam sejarah Kerajaan Pajajaran, harus ditempatkan dalam konteks edukatif yang lebih luas, bukan hanya sebagai destinasi wisata semata.

Langkah ini sejalan dengan visi Jawa Barat untuk menjadikan sejarah sebagai fondasi pembangunan karakter dan literasi budaya masyarakat.

BACA JUGA :  Ketika Perang Timur Tengah Buka Mata Barat soal Ketergantungan pada Tiongkok di Sektor Energi Bersih

Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana menggandeng perguruan tinggi untuk melakukan kajian komprehensif terhadap tata ruang dan situs sejarah di wilayah Bogor dan sekitarnya.