EventBogor.com – Kabar panas datang dari tubuh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kota Bogor. Empat komisariat penuh dan satu komisariat persiapan kompak menyatakan mosi tidak percaya terhadap hasil Konferensi Cabang (Konfercab) ke-VIII. Sebuah langkah berani yang mengindikasikan gejolak serius dalam ranah demokrasi internal organisasi mahasiswa Islam terbesar di Indonesia ini.

Mengapa ini penting sekarang? Karena gejolak di tubuh organisasi mahasiswa seringkali menjadi cermin dari dinamika sosial-politik yang lebih luas. Jika demokrasi di tingkat mahasiswa saja tercederai, bagaimana harapan kita terhadap proses demokrasi yang lebih besar?

Pelanggaran Prinsip Demokrasi: Lebih dari Sekadar Prosedur

Bayangkan sebuah pemilihan umum yang tiba-tiba. Tanpa pemberitahuan, tanpa kejelasan aturan main, dan tiba-tiba saja ada pihak yang dinobatkan sebagai pemenang. Itulah yang dialami oleh lima komisariat HMI Bogor. Mereka menuding pelaksanaan Konfercab ke-VIII sarat dengan kejanggalan. Pemilihan pimpinan sidang yang serba mendadak, penetapan ketua umum yang dilakukan tanpa kuorum, dan persoalan legalitas Koordinator Steering Committee (SC) menjadi beberapa poin penting yang mereka soroti.

“Kami menyaksikan langsung bagaimana pimpinan sidang tiba-tiba dinyatakan terpilih,” ujar perwakilan dari salah satu komisariat, menggambarkan kekecewaan mereka. Bukan hanya itu, mereka juga menyoroti tindakan intimidatif dari unsur Majelis Pengawas dan Konsultasi Pengurus Cabang (MPK-PC) terhadap kader-kader yang berani menyuarakan kritik. Sungguh ironis, ketika semangat kebebasan berpendapat yang seharusnya dijunjung tinggi malah dikekang.

BACA JUGA :  SIM Keliling Jakarta Hari Ini: Jangan Sampai SIM Anda 'Mati'!

Mantan Ketua Umum ‘Nekat’: Ketika Aturan Dilanggar