Eventbogor.com – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti pengaturan tata ruang di kawasan Batutulis, Bogor, yang dinilai tidak selaras dengan kondisi alam dan nilai sejarah setempat.
Menurut Dedi Mulyadi, perencanaan tata ruang di Batutulis belum memperhatikan konteks geografis serta warisan budaya yang melekat di wilayah tersebut.
Ia menekankan pentingnya integrasi antara kearifan lokal, ekosistem alam, dan fungsi kota dalam setiap kebijakan tata ruang.
Dedi Mulyadi juga mengkritik pendekatan masyarakat terhadap peninggalan sejarah Sunda yang cenderung bersifat klenik, bukan berdasarkan pemahaman akademik.
Ia mendorong agar situs-situs bersejarah seperti Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake dijadikan objek kajian ilmiah yang sistematis.
Melalui pendekatan akademik, Dedi Mulyadi berharap generasi muda dapat memahami sejarah Sunda secara kritis dan berbasis bukti.
Upaya ini sejalan dengan visi Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk melestarikan identitas budaya melalui pendidikan dan riset.
Dedi Mulyadi menilai, tata ruang yang baik harus lahir dari pemahaman mendalam terhadap sejarah dan ekologi wilayah.
Di Batutulis, keberadaan situs sakral dan kontur tanah yang berbukit seharusnya menjadi acuan utama dalam perencanaan pembangunan.
Alih-alih mengabaikan aspek tersebut, pemerintah daerah diminta untuk melibatkan ahli sejarah, geografi, dan lingkungan dalam proses pengambilan keputusan.
