Eventbogor.com –
Kenaikan harga Pertamax di Bogor menjadi sorotan utama masyarakat pada paruh pertama 2026, ketika harga BBM nonsubsidi menembus angka Rp16.250 per liter.
Perubahan harga ini tidak hanya memengaruhi pola konsumsi bahan bakar, tetapi juga mencerminkan tekanan fiskal yang semakin besar di tengah kondisi ekonomi nasional.
Sebagai respons, sejumlah pengendara di Bogor mulai beralih ke Pertalite, menyebabkan antrean panjang di sejumlah SPBU seperti di kawasan Kopo Sayati.
Perpindahan konsumen dari Pertamax ke Pertalite menunjukkan kebutuhan mendesak akan solusi energi yang terjangkau dan berkelanjutan di wilayah perkotaan.
Ekonom dari Universitas Pasundan (Unpas) menyatakan bahwa kenaikan harga BBM nonsubsidi ini menjadi indikator bahwa pemerintah mulai kewalahan menghadapi beban fiskal yang terus meningkat.
Peningkatan biaya operasional negara, terutama dalam menopang subsidi energi, memberi tekanan besar pada APBN dan memaksa kebijakan penyesuaian harga secara berkala.
Meskipun Pertamax bukan BBM bersubsidi, dampak psikologis dan ekonomi dari kenaikannya dirasakan luas oleh masyarakat menengah atas yang bergantung pada kualitas bahan bakar tersebut.
Pergeseran pola konsumsi ini juga berpotensi membebani pasokan Pertalite, yang sejatinya ditujukan untuk masyarakat berpenghasilan rendah.
Di sisi lain, krisis energi bukan satu-satunya tantangan yang dihadapi wilayah Jawa Barat di musim kemarau 2026.
Sebanyak 2.302 hektare lahan pertanian di Kabupaten Bandung Barat berpotensi terdampak kekeringan, mendorong Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) KBB menyiagakan 122 pompa air untuk mitigasi dini.
Langkah ini penting untuk menjaga ketahanan pangan lokal, terutama di tengah fluktuasi harga energi yang berdampak pada biaya produksi pertanian.
Sementara itu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengalami kendala operasional di sejumlah daerah.
Di Kota Banjar, satu dari 34 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terpaksa berhenti beroperasi karena bantuan perencanaan (banper) belum cair.
Di Kabupaten Tasikmalaya, 21 dapur MBG masih belum aktif, dan satu SPPG bahkan disuspensi akibat sarana dan prasarana yang tidak memadai.
Gangguan dalam distribusi gizi ini menunjukkan perlunya sistem pengawasan dan pendanaan yang lebih stabil untuk program sosial skala besar.
Selain isu energi dan pangan, kasus kekerasan seksual terhadap anak kembali mencuat setelah kasus dugaan pelecehan oleh ayah kandung terhadap SA (33) di Cimahi resmi ditangani Polres Cimahi.
Kasus ini mengingatkan pentingnya perlindungan psikologis dan hukum bagi korban kekerasan dalam rumah tangga, terlepas dari usia mereka.
Di bidang keamanan, Tim Reaksi Cepat (TRC) Unit Resmob Satreskrim Polres Tasikmalaya berhasil membekuk komplotan pencurian kendaraan bermotor asal Cipatujah yang telah beraksi sebanyak 10 kali.
Pengungkapan ini menunjukkan komitmen aparat dalam menekan angka kejahatan jalanan, meski tantangan ekonomi bisa memicu potensi kriminalitas meningkat.
Sementara itu, pengembang The Emeralda Resort di Padalarang mengakui proyek mereka mengalami kendala cash flow, menyebabkan keterlambatan pembangunan.
Kendala finansial ini mencerminkan tekanan ekonomi makro yang juga dirasakan sektor properti, terutama dalam mempertahankan likuiditas di tengah kenaikan suku bunga dan biaya operasional.
Secara keseluruhan, kenaikan harga Pertamax menjadi simbol dari krisis multidimensi yang dihadapi masyarakat perkotaan dan pedesaan di Jawa Barat pada 2026.
Isu energi, pangan, keamanan, dan kesejahteraan sosial saling terkait dan memerlukan pendekatan terpadu dari pemerintah daerah dan pusat.
Ke depan, kebijakan yang responsif, transparan, dan berbasis data akan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas sosial dan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
