Pada abad ke-16, bangsa Eropa mulai berdatangan—Portugis, Belanda, Inggris—semuanya ingin menguasai posisi kunci ini.
Melaka yang kemudian jadi kota pelabuhan penting dibawah kesultanan Melayu menjadi rebutan karena letaknya yang ideal.
Cerita tentang Parameswara, sang pendiri, yang terinspirasi oleh pohon Melaka saat melihat seekor kancil menyerang anjing, jadi simbol awal dari legitimasi politik dan ekonomi kawasan itu.
Nama Malaka sendiri dipercaya berasal dari kata ‘Melaka’, merujuk pada pohon yang tumbuh subur di sekitar pemukiman awal.
Legenda ini bukan cuma cerita rakyat biasa, tapi juga mencerminkan bagaimana identitas lokal dibentuk dari kontrol atas ruang strategis.
Saat kolonialisme masuk, persaingan atas Selat Malaka berubah jadi soal proyeksi kekuasaan global.
Inggris akhirnya mendominasi wilayah utara selat, sementara Belanda mengontrol sisi selatan, menciptakan pembagian yang masih terasa hingga kini dalam batas-batas geopolitik Asia Tenggara.
Hari ini, meski tak ada lagi kapal perang Eropa bersandar, ketegangan tak sepenuhnya hilang.
Negara-negara seperti China, Amerika Serikat, dan India terus memantau situasi di Selat Malaka karena risiko bajak laut, konflik teritorial, dan gangguan rantai pasok.
Kerja sama patroli maritim antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura pun digalakkan untuk menjaga keamanan bersama.