Eventbogor.com – Bayangkan sebuah jalur sempit di antara dua daratan yang bisa menggerakkan seperempat perekonomian dunia.

Namanya Selat Malaka, dan sejak ratusan tahun lalu, tempat ini bukan cuma jadi lintasan kapal, tapi juga medan pertarungan pengaruh global.

Lokasinya yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Laut Cina Selatan bikin selat ini tak tergantikan dalam rantai pasok internasional.

Kapal-kapal pengangkut minyak dari Timur Tengah menuju China, Jepang, atau Korea hampir pasti harus melewati sini.

Tak heran kalau keamanan Selat Malaka sering jadi perhatian utama negara-negara besar, baik secara ekonomi maupun militer.

Tapi sebenarnya, peran strategisnya bukan baru muncul di abad ke-20—akarnya sudah tumbuh sejak zaman kerajaan maritim kuno.

Pada abad ke-7, Kerajaan Sriwijaya sudah lebih dulu menyadari potensi Selat Malaka sebagai pusat perdagangan maritim.

Dengan armada yang tangguh, mereka menguasai alur pelayaran dan memungut upeti dari kapal dagang asing yang lewat.

Kendali atas selat itu membuat Sriwijaya menjadi kekuatan dominan di Nusantara saat itu, menjalin hubungan dagang sampai ke Tiongkok dan India.

Bahkan setelah kemunduran Sriwijaya, nilai strategis wilayah ini tetap mengundang minat kekuatan asing.

Pada abad ke-16, bangsa Eropa mulai berdatangan—Portugis, Belanda, Inggris—semuanya ingin menguasai posisi kunci ini.

Melaka yang kemudian jadi kota pelabuhan penting dibawah kesultanan Melayu menjadi rebutan karena letaknya yang ideal.

BACA JUGA :  Danantara Pacu Integrasi Digital BUMN untuk Tekan Biaya dan Dorong Inovasi Nasional

Cerita tentang Parameswara, sang pendiri, yang terinspirasi oleh pohon Melaka saat melihat seekor kancil menyerang anjing, jadi simbol awal dari legitimasi politik dan ekonomi kawasan itu.

Nama Malaka sendiri dipercaya berasal dari kata ‘Melaka’, merujuk pada pohon yang tumbuh subur di sekitar pemukiman awal.

Legenda ini bukan cuma cerita rakyat biasa, tapi juga mencerminkan bagaimana identitas lokal dibentuk dari kontrol atas ruang strategis.

Saat kolonialisme masuk, persaingan atas Selat Malaka berubah jadi soal proyeksi kekuasaan global.

Inggris akhirnya mendominasi wilayah utara selat, sementara Belanda mengontrol sisi selatan, menciptakan pembagian yang masih terasa hingga kini dalam batas-batas geopolitik Asia Tenggara.

Hari ini, meski tak ada lagi kapal perang Eropa bersandar, ketegangan tak sepenuhnya hilang.

Negara-negara seperti China, Amerika Serikat, dan India terus memantau situasi di Selat Malaka karena risiko bajak laut, konflik teritorial, dan gangguan rantai pasok.

Kerja sama patroli maritim antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura pun digalakkan untuk menjaga keamanan bersama.

Namun tantangan tetap ada, terutama saat ketegangan geopolitik global meningkat, seperti yang terjadi di kawasan Laut Cina Selatan.

Bagi Indonesia, sebagai salah satu negara yang berbatasan langsung dengan selat ini, posisinya sangat dilematis—harus menjaga kedaulatan tanpa mengganggu arus perdagangan internasional.

Selat Malaka bukan cuma jalur air biasa, tapi cermin dari bagaimana geografi bisa membentuk sejarah, ekonomi, dan kekuasaan selama berabad-abad.

BACA JUGA :  Bogor Siapkan 'Senjata' Ampuh: BLK Tingkatkan Kualitas SDM Demi Industri

Dari masa kejayaan Sriwijaya sampai persaingan AS-China di era 2026, selat ini tetap jadi poros tak resmi dari dunia maritim modern.