Eventbogor.com – Ketegangan geopolitik yang terus memanas, terutama di kawasan Timur Tengah, kini jadi angin sakal bagi perekonomian Indonesia.
Selain mengganggu rantai pasok energi global, konflik ini turut mendorong lonjakan harga minyak dan komoditas pangan yang berimbas langsung pada tekanan inflasi dunia.
Data dari Bank Indonesia menunjukkan inflasi global kini menyentuh angka 4,2 persen, sementara pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan hanya mencapai 3 persen tahun ini.
Kondisi ini membuat arus modal asing cenderung mengalir kembali ke aset berdenominasi dolar Amerika Serikat, terdorong oleh suku bunga tinggi yang dipertahankan Federal Reserve dan bank sentral maju lainnya.
Tekanan eksternal semacam ini otomatis memperberat posisi rupiah yang harus bertahan di tengah pelemahan nilai tukar negara berkembang lainnya.
Meski begitu, Bank Indonesia tidak tinggal diam—intervensi pasar diperluas tak cuma di pasar spot, tapi juga melalui transaksi DNDF domestik dan bahkan instrumen offshore.
Langkah ini dimaksudkan bukan cuma menjaga level rupiah, tapi lebih jauh lagi, menjamin stabilitas sistem keuangan nasional tetap terkendali.
Menurut Juli Budi Winantya, Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, intervensi multi-instrumen adalah bentuk nyata komitmen lembaga untuk meredam gejolak eksternal yang tak bisa dikendalikan sepihak.
Pemerintah pun tak lepas tangan—dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 yang masih optimistis di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen, belanja fiskal digenjot sebagai penopang daya tahan domestik.
Target inflasi tahun ini tetap dijaga agar tak melejit, meskipun tantangan dari harga energi dan pangan global terus mengintai.